Catatan Pendek tentang Cerita Pendek

Cerita pendek (disingkat cerpen) disebut cerita karena isinya memang cerita, bukan berita, karya ilmiah, kolom, artikel, atau teks lagu; disebut pendek karena ukurannya memang relatif pendek. Relatif pendek berarti pendeknya itu variatif, dari yang hanya setengah halaman sampai puluhan halaman. Namun umumnya kita tidak membayangkan ada cerpen yang panjangnya menyamai sebuah novel atau roman.

Cerpen tergolong genre prosa. Seperti kita tahu, karya sastra modern dibagi ke dalam tiga genre: puisi, prosa, dan drama. Yang termasuk prosa adalah cerpen dan novel. Perbedaan utama dari cerpen dan novel, menurut saya, hanyalah dari segi ukurannya. Cerpen itu relatif pendek sedangkan novel itu panjang.

Ada yang mengatakan, cerpen hanya mengangkat satu pokok persoalan, sedangkan novel lebih dari satu pokok persoalan. Pembedaan ini tidak selalu betul. Ada novel yang hanya mengangkat satu pokok persoalan, misalnya novel detektif, novel misteri, dan umumnya novel-novel percintaan untuk remaja.

Ada yang mengatakan, cerpen hanya menceritakan satu fragmen kehidupan, sedangkan novel atau roman menceritakan kisah hidup tokoh dalam banyak fragmen kehidupannya. Ini pun tidak selalu tepat. Ada novel yang hanya berkisah tentang satu peristiwa, namun dengan sangat detail sehingga menjadi tebal. Ada pula cerpen yang mengambil kilas balik ke masa lalu yang sangat jauh sehingga seperti mengisahkan tokoh sejak masa kecilnya.

Pada periode awal lahirnya cerpen, yakni masa-masa sekitar sebelum kemerdekaan, sebuah pengantar untuk buku kumpulan cerpen menyebut bahwa cerpen adalah cerita yang bisa selesai dibaca dalam sekali duduk, sembari menunggu kereta atau sambil menikmati kopi hangat dan pisang goreng di pagi hari. Anggapan ini mungkin relevan untuk umumnya cerpen, namun tidak untuk cerpen-cerpen tertentu, umpamanya yang terlalu panjang atau yang bahasanya tergolong berat.

Mengenai cerita-cerita yang biasa dimuat di koran hari minggu, kita tidak ragu bahwa itu memang cerpen. Ukurannya pendek, bisa dibaca dalam waktu 10 sampai 20 menit. Apalagi di bagian atas halaman koran itu biasanya ada tulisan yang menunjukkan bahwa tulisan di bawahnya adalah cerpen.

Keraguan, dan, karena itu, ujian terhadap batas-batas teori cerpen, muncul pada cerpen-cerpen yang kelewat panjang. The Old Man and the Sea, karya Ernest Hemingway, kadang disebut cerpen kadang disebut novel, tergantung pandangan pengamat. Begitu pula Metamorfosis karya Franz Kafka. Cerpen Budi Darma berjudul Kritikus Adinan tergolong kepanjangan dibanding cerpen-cerpen pada umumnya. Cerpen-cerpen Umar Kayam juga ada yang sangat panjang, misalnya Sri Sumarah dan Bawuk.

Untuk mewadahi kecenderungan ini, muncullah apa yang disebut novelet. Artinya kira-kira: novel yang pendek. Novelet ini sepertinya tidak punya karakter lain, selain bahwa panjangnya berada di antara cerpen (pada umumnya) dan novel.

Sekarang ini, cerpen pun diuji batas-batasnya dengan puisi. Ada cerpen yang sangat liris bahasanya sehingga menyamai bahasa puisi; sebaliknya, ada puisi yang tampilannya serupa prosa dan isinya seperti bercerita sehingga sulit dibedakan dengan cerpen, misalnya puisi-puisi Sapardi Djoko Damono.

Unsur-unsur Cerpen

Unsur-unsur cerpen terbagi dua, yaitu unsur intrinsik (dalam) dan unsur ekstrinsik (luar). Unsur intrinsik ada lima, yaitu tema, alur, latar, karakter, dan sudut pandang. Sedangkan unsur ekstrinsik tidak terbatas; apa saja berpengaruh pada nasib cerpen, itulah unsur ekstrinsik. Yang bisa disebut unsur ekstrinsik antara lain biografi pengarang, kondisi sosial ekonomi pengarang, suasana hati pengarang saat menulis cerpen, proses kreatif, tujuan cerpen itu ditulis, sistem pemerintahan di negara di mana pengarang tinggal, media yang menerbitkan cerpen, berapa honor yang mungkin diterima pengarang, jenis kertas dan desain sampul seandainya dibukukan, harga buku, strategi promosi, hingga tanggapan pembaca.

Tentang unsur-unsur intrinsik, dapat dijelaskan secara singkat sebagai berikut.

Tema adalah pokok soal yang diangkat dalam cerita. Misalnya tentang cita-cita seorang anak, kasih sayang istri pada suami, perjuangan merebut kemerdekaan, dsb. Tema biasanya disebut dalam satu nafas dengan amanat. Namun teori cerpen modern tidak mensyaratkan adanya amanat.

Alur adalah urutan munculnya peristiwa dalam cerita yang diikat menurut hubungan tertentu. Dulu hubungan itu mestilah hubungan sebab akibat. Tapi sekarang ada cerpen yang menjajarkan beberapa peristiwa tanpa ada kaitan sama sekali, selain kesamaan tema. Bahkan ada cerpen yang tidak bercerita, hanya menampilkan suasana atau menggambarkan tokoh saja.

Latar adalah penggambaran tempat dan waktu terjadinya peristiwa. Latar (setting) berbeda dengan latarbelakang (background), yakni peristiwa lain (biasanya peristiwa besar) yang dikaitkan dengan cerita, misalnya tenggelamnya kapal Titanic sebagai latarbelakang untuk kisah cinta Rose dan Jack.

Karakter atau tokoh adalah pelaku-pelaku dalam cerita. Bergantung jenis ceritanya, karakter cerita boleh siapa saja, manusia atau hewan, atau juga benda-benda mati yang dihidupkan. Karakter dapat digambarkan secara fisik maupun nonfisik, seperti sikap, tindakan, pemikiran, dan cara berucap.

Sudut pandang adalah posisi pencerita terhadap cerita, apakah di luar atau di dalam cerita. Setidaknya terdapat dua macam sudut pandang yang umum digunakan, yaitu sudut pandang orang ketiga (dia) dan sudut pandang orang pertama (aku). Pada sudut pandang orang ketiga, pencerita berada di luar cerita. Dia bersikap serba tahu, termasuk apa yang dipikirkan tokoh-tokohnya. Pada sudut pandang orang pertama, pencerita berada dalam cerita dan termasuk tokoh cerita, entah sebagai tokoh utama ataupun bukan. Pencerita yang berada di dalam cerita ini hanya mungkin tahu isi pikirannya sendiri, sedangkan ihwal tokoh lain sebatas yang diperlihatkan secara lahir.

Jika dilihat, unsur-unsur di atas sama dengan yang dimiliki novel. Memang, cerpen dan novel itu tidaklah berbeda, kecuali soal ukuran. []

This entry was posted in Esai Sastra and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Catatan Pendek tentang Cerita Pendek

  1. Pingback: Catatan Pendek tentang Cerita Pendek | Blog Asep Sofyan - Kumpulan Cerpen

  2. ahmad fauzi says:

    nice info, salut. mampir diblogku ya bro. salam kenal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s