Saya Punya Sesuatu yang Tuhan Tidak Punya

Umar bin Khattab pernah marah-marah kepada Hudzaifah, salah seorang dari sepuluh sahabat yang dijamin oleh Nabi masuk surga. Waktu itu Umar masih mualaf, ghirah Islamnya tinggi. Umar menanyakan kabar kepada Hudzaifah. Tapi jawab Hudzaifah, “Alhamdulillah saya masih senang fitnah, alhamdulillah saya masih membenci yang hak, alhamdulillah saya masih sering salat tanpa wudu, alhamdulillah saya masih memiliki sesuatu di bumi yang tidak dimiliki Tuhan di langit.”

Melihat Umar mencak-mencak, Ali bin Abi Thalib yang ada di situ memberi penjelasan. “Kenapa harus marah, hai Umar? Itu, kan, semuanya benar. Coba perhatikan, Huzaifah masih mencintai fitnah, maksudnya masih mencintai istrinya dan anak-anaknya dan hartanya. Bukankah ada ayat yang mengatakan bahwa istri dan anak dan harta adalah fitnah? Membenci yang hak, artinya maut. Maut itu hak, sesuatu yang pasti terjadi. Artinya Huzaifah masih ingin hidup. Masih sering salat tanpa wudu, artinya mengucapkan salawat kepada Nabi dan ini memang tidak perlu wudu. Hudzaifah punya sesuatu yang tidak dimiliki Allah, artinya istri dan anak. Bukankah Allah tidak memiliki istri dan anak?” (Disalin dari sebuah ceramah di Masjid Agung Sunda Kelapa Jakarta)

This entry was posted in Serba-serbi and tagged , , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Saya Punya Sesuatu yang Tuhan Tidak Punya

  1. desy says:

    he🙂
    dd fikir apa?

    oo ternyata maksudnya begitu………..

  2. Said says:

    Imam Ali memang sahabat yg jenius…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s