Khu Lung: The Interpreter of Loneliness

Khu Lung (dalam bahasa Inggris disebut Gu Long) adalah seorang penulis cerita silat ternama asal Taiwan. Ia lahir di Hong Kong pada tahun 1937 dan meninggal di Taiwan tahun 1985. Menulis cerita sejak usia 11 tahun, dia telah menjadi sangat terkenal pada umur dua puluhan lewat cersil-cersilnya. Kehadiran Khu Lung mendobrak dominasi Chin Yung. Gaya tulisannya menawarkan sesuatu yang berbeda dari umumnya cersil yang realis dan konvensional.

Setidaknya ada empat hal yang sangat saya sukai dari Khu Lung:

Pertama, deskripsinya yang kaya dengan perumpamaan segar dan jenaka, misalnya saat melukiskan kecantikan seorang gadis, kehebatan seorang tokoh, atau jalannya pertarungan tingkat tinggi.

Kedua, dialog-dialognya yang cerdas dan sering menggunakan kata-kata bersayap. Di sini kerapkali dia kebablasan sehingga abai dengan cerita. Tapi mengikuti dialognya saja sudah cukup mengasyikkan.

Ketiga, suasana ceritanya: kesepian, kehangatan, kemurungan, keriangan.

Keempat, renungan-renungan filosofisnya. Saya curiga, sepertinya dia menyerap dengan baik gagasan-gagasan eksistensialisme.

Tokoh-tokoh dalam novel Khu Lung tidak pernah hitam putih, umumnya seorang yang cerdas (kecuali misalnya pada Pendekar Riang), dan selalu doyan arak. Khu Lung sendiri memang seorang pemabuk tanpa tanding. Ia meninggal karena kebanyakan nenggak alkohol. Di kuburannya, kawan-kawan Khu Lung membenamkan 48 botol brandy tanpa tutup untuk menemani dia dalam tidur panjangnya.

Saya baru membaca 15 novel Khu Lung dari total sekitar 80 karyanya. Tapi saya beruntung telah membaca salah satu novelnya yang terbaik, berjudul Pendekar Budiman (Siao Li Fei Dao). Inilah karya Khu Lung yang paling membekas dalam hati dan pikiran saya. Kualitasnya saya kira setara dengan novel-novel peraih nobel. Novel ini menyajikan kesepian, kemurungan, kepedihan, kedukaan, tragedi, dalam bentuknya yang paling sublim, kejam, dan indah. Maybe he is a great master of interpreter of loneliness. Gema dari cerita ini mendengung terus hingga melahirkan sebuah cerpen lanjutan versi saya, ”Si Pisau Terbang Melepaskan Pisaunya”.

Cersil Siao Li Fei Dao ditulis Khu Lung pada tahun 1970 dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Gan K.L. (dengan judul Pendekar Budiman), Gan K.H. (Pendekar Merana, Satria Baja), dan Kwee Tjin (Si Pisau Terbang). Saya membacanya lewat versi terjemahan Gan K.L. pada bulan Maret 2007. Karena terjemahannya tidak sampai tamat, saya lanjutkan dengan versi berbahasa Inggris berjudul The Flying Blade of Xiao Li hingga selesai pada Mei 2007. Setelah itu saya masih membacanya beberapa kali, dan menemukan lebih banyak lagi pemaknaan baru.

Selain Pendekar Budiman, berikut ini adalah karya-karya Khu Lung yang saya anggap terbaik, tentunya dari yang pernah saya baca:

  1. Misteri Kapal Layar Pancawarna (Huan Hua Xi Jian Lu/ The Tale of Refining the Sword Like Cleansing the Flower) – 1964
  2. Pendekar Baja (Wu Lin Wai Shi/ A Fanciful Tale of the Fighting World) – 1965
  3. Pendekar Binal (Jue Dai Shuang Jian/ Legendary Sibling) – 1967
  4. Pendekar Harum (Wue Hai Pian Siang/ Lingering Fragrance in the Sea of Blood) – 1968
  5. Pendekar Riang (Huan Le Yin Xiong/ A Merry Hero) – 1971
  6. Anak Berandalan (Xiao Shi Yi Lang/ The Legend of the Deer-Carving Sabre) – 1973
  7. Peristiwa Bulu Merak (Tian Ya, Ming Yue, Dao/ The End of the World, the Bright Moon, the Sabre) – 1975
  8. Pendekar Empat Alis (Lu Xiao Feng) – 1976
  9. Harimau Kumala Putih (Bai Yu Lao Hu/ White-Jade Tiger) – 1976
This entry was posted in Esai Sastra and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Khu Lung: The Interpreter of Loneliness

  1. Pingback: Khu Lung: The Interpreter of Loneliness | Sekolah Berpikir dan Menulis - Kumpulan Cerpen

  2. meski belum baca ceritanya yang lain, saya sepakat, pendekar budiman memang cerita pilih tanding. saya tak bisa tidur dua malam karena tak habis pikir ada orang bisa bercerita demikian; penuh kejut, tak terduga, aneh, sepi, dan ceritanya bikin penasaran. saya bersyukur meski baru salah satu yang saya baca. hingga saat menulis komentar ini, saya belum berhasyrat baca cerita lain, ingin mengawetkan rasa bahasa dan cerita pendekar budiman…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s