Logika Keselamatan Menyikapi Kasus Ahmadiyah

Setiap manusia pasti ingin selamat, baik di dunia maupun di akhirat. Tidak ada manusia yang secara sadar, sengaja, dan dalam keadaan bebas memilih untuk hidup celaka, terlebih celaka selama-lamanya.

Memang ada kasus di mana orang secara sadar dan sengaja mengorbankan keselamatannya di akhirat demi memperoleh keuntungan di dunia. Misalnya mereka yang menjadi maling, pelacur, atau babi ngepet. Mereka tahu perbuatan itu dosa dan di akhirat akan dibalas siksa, tapi mereka tetap melakukannya.

Namun kasus seperti ini terjadi hanya pada mereka yang tidak bebas. Mereka terpaksa karena, antara lain, tidak kuat menanggung beban ekonomi di dunia. Ini bukan kekecualian. Jadi intinya tetap, semua manusia ingin selamat, kalaupun tidak di dunia ya di akhirat; kalaupun di akhirat celaka ya setidaknya di dunia berjaya.

Salah satu cara untuk memperoleh jaminan keselamatan di akhirat adalah dengan menganut suatu agama. Ini merupakan pertaruhan yang amat besar. Taruhannya bukan lagi harta benda, jabatan, atau anggota keluarga, tapi keselamatan jiwa. Itu pun bukan di dunia, tapi di alam akhirat yang baka.

Mengapa disebut pertaruhan? Karena agama ada bermacam-macam, dan di antara beragam agama itu sangat mungkin hanya satu yang benar. Agama yang benar inilah yang akan membawa kepada keselamatan.

Jadi walaupun seseorang telah menganut suatu agama, belum tentu ia akan selamat. Ini terjadi jika ia memilih agama yang salah. Dan kemungkinan itu sangat besar, sebab ada sangat banyak agama di dunia ini, sementara yang benar mungkin hanya satu.

Setiap agama – atau pada umumnya agama – mengajarkan klaim bahwa hanya agama itulah yang benar dan mampu menjamin keselamatan penganutnya. Adanya klaim ini memberikan rasa aman kepada penganutnya untuk setia memeluk agama tersebut.

Dilihat dari luar, klaim keselamatan ini mungkin terasa menggelikan. Namun klaim macam begini patut dihargai oleh siapa pun yang ingin memahami perilaku beragama seseorang atau ingin pilihan agamanya sendiri dihormati.

Mengapa ada orang yang tetap teguh dengan agamanya meski ia digoda, diiming-imingi harta dan kedudukan, disiksa, bahkan diancam kematian? Tentulah karena ia yakin dengan seyakin-yakinnya bahwa agamanya itulah yang benar dan menjamin keselamatannya di hari kemudian.

Namun patut diingat, salah dan benar dalam hal ini baru bisa diketahui nanti di akhirat. Seseorang boleh saja bersikeras bahwa agamanya sajalah yang benar. Tapi orang lain dari agama lain pun bisa dan berhak melakukan itu.

Karena itu, jika seorang penganut agama membela keyakinannya dengan gigih bahkan dengan nyawanya, tak ada yang bisa dilakukan selain menghormati pilihannya.

***

Cara pandang seperti ini seyogyanya kita terapkan dalam menilai masalah Ahmadiyah. Kita tahu, sepanjang sejarahnya bermacam cara telah dilakukan oleh sebagian umat Islam untuk mengembalikan para penganut Ahmadiyah kepada ajaran Islam arus utama. Cara-cara itu mulai dari ajakan yang bersifat persuasif, dialog ilmiah, debat kasar, hingga hujatan, hinaan, siksaan, ancaman, paksaan, teror, perusakan, pembakaran, bahkan pembunuhan.

Tapi sejauh ini sebagian besar penganut Ahmadiyah tetap berpegang pada keyakinannya. Kalaupun ada yang berpindah, belum tentu ia melakukannya dengan sukarela.

Mengapa mereka sekukuh itu? Berdasarkan logika keselamatan, bisa jadi karena mereka memang yakin betul bahwa Ahmadiyah itulah ajaran yang benar, ajaran yang akan menyelamatkan mereka dari penderitaan tanpa akhir di alam kekal.

Jika sudah begini, pemaksaan tak akan berguna sama sekali. Walaupun akhirnya orang-orang Ahmadiyah beralih ke Islam arus utama, kalau itu karena paksaan, hati mereka tak akan merasa nyaman sebab bukan di situ jaminan keselamatan yang mereka percayai.

Sebagian orang menganggap Ahmadiyah telah menodai agama Islam karena melekatkan nama Islam pada ajarannya. Kalau saja mereka tak memakai nama Islam, tentu mereka bebas menjalankan ajarannya sebagaimana Kristen, Hindu, Buddha, dan Konghucu.

Persoalannya, bagaimana jika orang Ahmadiyah itu sendiri meyakini bahwa ajarannya memang merupakan bagian dari Islam, yang jika nama Islam dilepaskan mereka akan merasa telah berpindah agama atau setidaknya menjadi munafik?

Boleh saja orang Islam arus utama menganggap orang Ahmadiyah itu tertipu nabi palsu, terjebak rekayasa imperialis yang ingin memecah-belah umat Islam, dsb. Juga boleh-boleh saja hal itu disampaikan kepada orang Ahmadiyah – tentunya secara baik-baik disertai bukti-bukti kalau memang ada. Tapi jika mereka merasa nyaman dalam keahmadiyahan mereka, lantas mau apa?

Sekali lagi, tidak ada orang yang ingin celaka, terlebih celaka selama-lamanya. Orang Ahmadiyah pun tidak. []

This entry was posted in Agama and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s