Al-Quran Memerintahkan Pengendalian Kelahiran

Islam tidak membatasi jumlah anak yang boleh dilahirkan oleh orangtua. Namun Alquran sebetulnya telah mendukung pengendalian kelahiran dengan cara lain, yaitu perintah untuk menyusui anak selama dua tahun. Allah berfirman: “Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan….” (QS al-Baqarah [2]: 233).

Perintah ini mengandung konsekuensi bahwa selama masa menyusui itu sang ibu jangan dulu punya anak lagi. Sebab jika ia punya anak lagi, atau minimal mengandung anak berikutnya, kemampuan alamiah tubuhnya dalam memproduksi air susu akan terganggu. Dan yang rugi adalah si anak, sebab masa penyusuannya tidak optimal. Setelah masa menyusui berakhir, barulah sang ibu dapat mempersiapkan diri untuk kehamilan berikutnya.

Jika perintah Alquran ini dipatuhi, maka jarak normal antara anak pertama dengan anak kedua adalah sekitar tiga tahun (dua tahun menyusui plus sembilan bulan kehamilan). Dalam sepuluh tahun perkawinan, sebuah keluarga Muslim paling banyak hanya akan memiliki anak tiga orang (kecuali ada yang kembar). Dan jelas, tidak akan ada sebuah keluarga Muslim yang dihuni oleh sepuluh atau belasan anak karena masa produktif seorang ibu dibatasi menopause.

Namun faktanya banyak keluarga Muslim yang memiliki anak hingga belasan. Itu artinya, bayi-bayi mereka tidak mendapatkan haknya secara penuh. Padahal Allah telah mengingatkan: “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka….” (QS al-Nisa` [4]: 9). Sebuah generasi akan kuat dan berkualitas jika mereka memperoleh perlakuan terbaik pada setiap tahapan pertumbuhannya, termasuk mendapatkan ASI pada dua tahun pertama.

Anak adalah titipan, sama seperti halnya harta. Sebagai titipan, ia harus dijaga dengan amanah. Tentunya semakin banyak titipan, semakin repot kita menjaganya. Salah-salah mengurus, anak bisa menjadi sumber fitnah. Beberapa kali Alquran menyebut anak sebagai fitnah, bergandengan dengan harta. Misalnya di surat al-Anfal ayat 28 Allah berfirman: “Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai fitnah dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.”

Banyak anak bukan semata persoalan rezeki. Kita percaya Allah menjamin rezeki setiap makhluk yang hidup. Dan mungkin benar pula ungkapan “banyak anak banyak rezeki”. Namun untuk zaman kini, banyak anak juga bisa merambat ke persoalan lingkungan. Kita merasakan betapa buruknya kualitas lingkungan hidup yang kita tinggali saat ini. Krisis energi, krisis air, krisis lahan, pemanasan global, dsb., adalah kondisi nyata yang kita hadapi abad ini. Dan semua itu, harus kita akui, disebabkan oleh tangan-tangan manusia (QS 30:41).

Oleh karena itu, saat kita merencanakan kelahiran anak, kita harus pula mempertimbangkan bahwa kemungkinan besar mereka akan hidup di zaman dengan kualitas lingkungan yang lebih tidak bersahabat dibanding zaman kita. []

This entry was posted in Agama, Lingkungan Hidup and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Al-Quran Memerintahkan Pengendalian Kelahiran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s