9 Alasan Membeli Unit Link + 3 Catatan

Hari Sabtu, 15 Oktober 2011, aku menandatangani formulir pengajuan asuransi jiwa tipe unit link. Bayar premi 500 ribu per bulan, manfaat yang kuperoleh (laki-laki, 31 tahun, kelas pekerjaan 2) adalah:

  1. Jika meninggal dunia : 450 juta (sampai usia <100 tahun)
  2. Jika kecelakaan dengan akibat meninggal atau cacat : 450 juta (sampai usia <65 tahun)
  3. Jika sakit kritis (49 penyakit kritis) : 400 juta (sampai usia <70 tahun)
  4. Payor (pembebasan premi dan dibayari premi oleh perusahaan jika terdiagnosis penyakit kritis atau mengalami cacat tetap total) sampai usia 65 tahun.

Ada juga nilai tunai di akhir tahun kesepuluh sebesar Rp 50.525.000 (asumsi pertumbuhan 18%). Nilai tunai ini belum menyamai premi total yang kubayarkan selama 10 tahun (60 juta), karena aku mengambil porsi asuransi yang maksimal. Tak mengapa, karena memang tujuanku adalah proteksi, bukan investasi.

Kalau memang tujuannya proteksi, kenapa tidak ambil asuransi murni? Kan bisa lebih murah?

Alasannya ada sembilan.

Pertama, aku ingin asuransi yang menyediakan keempat manfaat di atas. Aku tidak tahu adakah asuransi murni (tradisional) yang menyediakan empat manfaat tsb sekaligus, dengan harga yang kompetitif.

Apakah keempatnya harus diambil? Menurutku, ya. Karena asuransi jiwa murni saja tidak cukup. Bagaimana kalau kecelakaan tapi tidak mati, melainkan cacat? Kalau hanya mengambil asji murni, tentu UP-nya tidak cair. Sejauh ini tidak ada metode yang ampuh untuk mencegah kecelakaan. Berhati-hati saja tidak cukup, karena bisa saja penyebabnya kecerobohan orang lain. Satu-satunya cara hanyalah berdoa mengharap perlindungan dari Tuhan.

Tentang manfaat sakit kritis, sebetulnya aku pribadi yakin dengan pola hidupku yang sekarang ini, aku tidak akan mengalami sakit kritis, kecuali mungkin saat hendak meninggal. Tapi aku juga tahu potensi itu ada. Bapakku dulu meninggal dunia karena stroke, dan ibuku sekarang punya penyakit maag, asam urat, dan darah tinggi yang sering kumat. Mengambil manfaat sakit kritis adalah tindakan jaga-jaga, karena penyakit model begini biaya berobatnya mahal. Tentunya harapanku adalah tetap sehat sentosa selamanya.

Sedangkan manfaat payor menjamin bahwa rencana keuanganku, yakni mendapat proteksi jiwa sekaligus investasi, tetap berjalan apa pun yang terjadi pada diriku, sekalipun sakit kritis, cacat total, dan tidak bisa bekerja. Boleh dikatakan, payor benefit adalah “asuransi atas asuransi”. Ya, asuransi kita pun perlu diasuransikan lagi. (Di sini aku teringat ungkapan dalam dunia sufi: “Bahkan istigfar kita pun perlu diistigfarkan lagi”).

Kedua, aku ingin asuransi jiwa yang bisa berlaku seumur hidup, bukan sampai usia tertentu saja. Asuransi jiwa murni (termlife) paling banter hanya sampai 70 tahun, itu pun dengan premi yang sangat mahal selewat usia 50. Dengan unit link, aku punya keleluasaan apakah tetap sampai 100 tahun ataukah kubatalkan pada usia tertentu (misalnya 70 tahun). Dengan demikian, pada usia 70 tahun, seandainya masih hidup, aku bisa punya pilihan apakah akan mewariskan uang 450 juta (kemungkinan nanti nilainya tidak seheboh sekarang akibat inflasi) kepada ahli warisku, ataukah membatalkan asuransi jiwaku dan mengambil hasil investasi yang ada (di ilustrasi nilainya mencapai 948 juta).

Pilihan semacam ini tidak akan kuperoleh di asuransi murni termlife. Memang, menurut teori para perencana keuangan, orang tua umur 70 tahun tidak butuh asuransi jiwa karena hartanya diasumsikan sudah bejibun berkat hasil investasinya sejak masa muda. (Iya kalau sukses. Kalau bangkrut?). Tapi punya pilihan tentu lebih menyenangkan. Jika untuk punya pilihan itu aku harus membayar lebih, ya oke-oke saja. Dengan mengambil unit link sekarang, aku bisa menikmati biaya asuransi atau cost of insurance (COI) yang jauh lebih murah di masa tua, dibanding termlife. Dan dana untuk membayar COI itu tidak usah dipikirkan karena akan tertutupi oleh hasil investasi (dengan asumsi kondisi ekonomi sehat, dan tentunya kita mengharapkan demikian. Jika kondisi ekonomi tidak sehat, bukan hanya unit link yang rugi; semua investasi juga rugi, dan asuransi murni juga bisa mengalami gagal bayar klaim).

Ketiga, ada nilai tunai hasil investasi yang akan digunakan untuk merawat manfaat asuransi sampai masa berlakunya berakhir, atau jika butuh uang bisa diambil sebagian tanpa membatalkan manfaat asuransi.

Keempat, unit link menyediakan fasilitas cuti premi, yang memungkinkan diriku: 1) berhenti menyetor premi untuk sementara (beberapa bulan) jika karena satu dan lain hal aku mengalami kesulitan finansial. Pemberhentian ini tidak otomatis membatalkan polis asuransi karena ada unit investasi yang akan membayarkan biaya asuransi dan administrasi. Setelah keuanganku pulih, aku bisa kembali meneruskan setoran premi; 2) membayar premi lebih singkat (rencanaku 10 tahun) untuk mendapatkan proteksi lebih panjang.

Fasilitas ini mungkin bisa direplikasikan jika aku mengambil terpisah (TL+TD), dengan cara membayar premi lanjutan dari retur reksadana. Tapi kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi jika uang sudah di tangan kita.

Kelima, belum tentu asuransi murni lebih murah daripada unit link. Memang jika hanya membandingkan unit link vs termlife murni+reksadana, unit link akan kalah, termasuk dalam jangka panjang. Namun jika unit link dibandingkan dengan termlife+(kecelakaan+sakit kritis+payor)+reksadana, aku yakin unit link lebih unggul, termasuk dalam jangka pendek. Dalam jangka panjang, unit link akan lebih tampak lagi keunggulannya. Menurutku, unit link dirancang untuk diambil dengan manfaat yang beragam, bukan satu manfaat saja. Dengan mengambil minimal 2 atau 3 manfaat tambahan, keunggulan unit link akan lebih tampak.

Keenam, jelas unit link lebih praktis daripada mengambil asuransi terpisah dengan investasi. Kepraktisan adalah nilai lebih dari suatu produk, sebab bisa membantu kita menghemat waktu, tenaga, dan pikiran. Jika untuk kepraktisan ini kita membayar sedikit lebih mahal, itu lumrah. Apalagi jika lebih murah.

Ketujuh, dalam unit link ada agen yang sudah berkomitmen untuk melayani nasabah jika melakukan klaim. Ini juga nilai tambah yang tidak boleh diremehkan. Jika untuk fasilitas ini kita membayar lebih mahal, tak masalah. Apalagi jika lebih murah.

Kedelapan, kemampuan keuanganku saat ini hanya memungkinkan aku bayar premi secara bulanan, sedangkan beberapa produk term life yang sudah kusurvai, bayarnya hanya bisa tahunan. Biarpun ada term life yang misalnya menawarkan premi 3 juta utk UP 1 miliar, saat ini aku tidak sanggup bayar sekaligus. Lagi pula, seperti kusebutkan di atas, kebutuhan proteksiku bukan hanya UP jiwa.

Kesembilan, dengan alasan etis dan religius, aku hanya ingin asuransi yang syariah. Produk term-life yang murah-murah tsb pada umumnya belum syariah. Sedangkan term-life syariah lebih mahal preminya, ridernya tidak lengkap, dan aku tidak yakin ada renewal guarantee (garansi perpanjangan).

Produk unit link yang kuambil ini jenisnya syariah. Dan rata-rata penyedia unit link memiliki produk syariah.

Kesimpulan: Aku yakin unit link masih lebih baik, atau setidaknya lebih cocok untukku, daripada asuransi murni, dengan catatan:

1. Manfaat proteksinya dimaksimalkan. Perbesar uang pertanggungan meninggal, kecelakaan, dan sakit kritis, sampai jumlah maksimal yang diizinkan oleh program unit link tersebut sesuai premi yang kita bayarkan.

O ya, di sini aku tidak mengambil manfaat kesehatan karena sementara ini aku masih punya kartu Jamsostek dari kantor istriku. Aku tidak tahu berapa plafonnya (kurasa tidak besar), tapi cukuplah untuk sekadar sakit biasa dan dirawat inap di kamar paling murah. Lagi pula pemakaiannya jarang, karena jika aku sakit, aku pilih dibekam saja daripada ke rumah sakit.

2. Tidak salah memilih produk. Mengapa? Karena unit link berbeda-beda dalam segi manfaat yang bisa diberikan dan biaya yang dikenakan. Sebelum memutuskan yang sekarang ini, aku telah melakukan survai terhadap 5 produk unit link (P, T, A, A, dan A). Insya Allah yang kuambil ini adalah yang terbaik (manfaat paling besar, biaya paling rendah).

3. Agennya berkualitas. Jika anda bertemu agen asuransi, tanya berapa lama dia sudah jadi agen. Semakin lama insya Allah semakin baik, tandanya sudah pengalaman. Tapi juga jangan terlalu tua. Kalau bisa seumuran, sebab dia akan melayani kita seumur hidup kita. Kalau dia meninggal lebih dulu, kita bisa kehilangan fasilitas dilayani agen, kecuali agen di atasnya mau menggantikan.

Lalu tanya pula apakah agen tsb sudah menjadi nasabah dari produk yang dia tawarkan. Jika belum, itu namanya parah. Nyuruh orang beli, dia sendiri tidak pake. Kebetulan agen yang kutemui (aku yang menemuinya, bukan dia menemuiku) sudah enam tahun jadi agen dan kariernya sudah di puncak. Umurnya kelihatannya masih muda, tidak beda jauh denganku. Dan tentunya dengan kekayaan yang dia miliki, dia juga telah menjadi nasabah dari produk yang dijualnya.

 ***

Itulah beberapa pertimbangan yang kuambil sebelum memutuskan membeli unit link. Sebelumnya aku sempat anti dengan unit link setelah membaca saran beberapa perencana keuangan yang menganjurkan pemisahan antara asuransi dan investasi. Tapi kupikir para penyedia unit link pun membaca kritik-kritik yang dialamatkan kepada produk mereka. Ada yang sudah memperbaiki produknya, sebagian lagi belum.

Dan aku memilih produk unit link yang kelihatannya telah disempurnakan untuk siap menghadapi kritik tsb. Salah satu cirinya, dulu produk ini mengenakan biaya akuisisi 195%, sekarang biaya akuisisinya 145% dan bisa turun menjadi 118,7% jika aku membayar premi rutin hingga 10 tahun (produk ini memberikan ekstra 5,26% untuk porsi investasi sejak tahun keenam).

Demikian sekadar sharing. Jadi kita tidak sekadar anti dengan unit link tanpa punya pertimbangan yang komprehensif menyangkut sisi kelebihan dan kelemahan suatu produk. Termlife murah, tapi tidak bisa seumur hidup. Unit link lebih mahal, tapi bisa seumur hidup. Selain itu termlife saja belum cukup; kita juga butuh asuransi kecelakaan dan sakit kritis. Unit link memberikan manfaat-manfaat tambahan yang biaya asuransinya akan lebih murah dibanding harus mengambil satu-satu secara terpisah. (Di sini saya belum punya perbandingan dalam bentuk angka, tapi saya yakin setidaknya dalam jangka panjang unit link lebih murah).

Kemudian dari segi investasi, memang reksadana bisa menghasilkan retur yang lebih maksimal. Tapi tentunya kita mengambil unit link bukan dengan tujuan investasi, melainkan proteksi. Hasil investasi yang ada itu fungsinya untuk membayar biaya-biaya asuransi, sehingga sebaiknya tidak kita ambil, kecuali disisakan sejumlah dana yang cukup untuk berkembang sendiri agar kita tidak lagi harus membayar premi. []

This entry was posted in Asuransi and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

36 Responses to 9 Alasan Membeli Unit Link + 3 Catatan

  1. liza says:

    pak Asep, bolehkah saya memperkenalkan produk asuransi jiwa tradisional yang bisa memberikan pula proteksi (jiwa, cacat tetap karena kecelakaan, pembebasan premi, dll) seperti yg baru saja bapak ambil.. masa pembayaran yang pasti, proteksi sampai usia 99 tahun. thanks. liza (soeharyo.liza@gmail.com)

  2. Ian says:

    Pak, sy kirim email, dibales ya, tq

    @Oke, sudah saya balas. Terima kasih tlh berkunjung.

  3. Hanafi Mohan says:

    @Kang Asep Sofyan, Makasih atas sumbangan tulisannya ke Blog http://thenafi.wordpress.com nya, Kang. Kaget juga tadi, kok tiba-tiba ada Postingan dari Blog tsb, padahal saya tdk ada Posting apa-apa, krn Blog tsb memang sudah lama tdk saya urus. Akhir-akhir ini saya lebih sering posting tulisan di Blog saya yg satunya lagi yg di Blogspot. Setelah saya ingat-ingat, ternyata Kang Asep memang pernah saya undang sbg Author di Blog Wordpess saya itu, dan juga hingga kini.

    Mantaapp Kang Share Informasinya. Ditunggu tulisan-tulisan selanjutnya.

    Tabik.

    • Asep Sofyan says:

      Oke kawan. Terima kasih undangannya dulu. Ternyata baru sekarang saya manfaatkan hehe. Blog Thenafi trafiknya bagus tuh, kenapa ditinggalin? Sy jg bikin yg di blogspot, tapi ngerawatnya cape juga.

      Insya Allah saya manfaatkan lagi blogmu utk tulisan2 beikutnya.

      Tabik

  4. hanafi mohan says:

    @Kang Asep Sofyan, Fokus Blog saya yg WordPress dan Blogspot memang agak dibedakan, Kang. Yg WordPress bukannya ditinggalkan, tapi memang belum dpt ide utk nulis di situ. Akhir-akhir ini ide-nya memang lebih banyak tercurah di Blog yg Blogspot. Berikut ini Blog saya yg di Blogspot: http://hanafimohan.blogspot.com/ . Kalau berkenan, silakan dikunjungi.

    Saya tunggu tulisan-tulisan Kang Asep selanjutnya utk mengisi kekosongan sementara di Blog WordPress saya tsb. Semoga dari tulisan-tulisan Kang Asep itu saya jadi dpt ide utk tulisan saya selanjutnya di Blog WordPress saya itu (sehingga tdk sepi lagi seperti akhir-akhir ini).

    @Sip dah. Sy sdh berkunjung. Ada bekasnya di situ.

  5. redhanaulia says:

    ka asep boleh minta produk yang anda pakai?japri aja ke redhanaulia@gmail.com

    @Oke, sudah dijapri. Terima kasih sudah berkunjung.

  6. PiPiT says:

    pak asep,, saya boleh tau produk unit link apa yang pak asep pakai?
    mohon PM ya pak..🙂

    @Salam, boleh. Sudah di-PM. Terima kasih sudah berkunjung.

  7. bowo says:

    Pak Asep, saya juga tertarik dengan produk unit link yang bapak ambil, boleh di infokan kepada saya pak by email? terima kasih sebelumnya.

    @Makasih udah mampir n baca tulisan sy. Email sdh sy kirim.

    • Rachmad says:

      pak asep,, saya boleh tau produk unit link apa yang pak asep pakai?
      mohon japri ya pak..🙂

      @Salam. Email sudah sy kirim. Terima kasih atas kunjungannya.

  8. ch1mpsandri says:

    pak asep boleh di kirimkan produk unit link yang bapak pakai via japri ke
    andrie.aja.nich@gmail.com

    pak asep saya juga mau tanya, saya berminat untuk pake UL dari prudential dan takaful yang berbasis saham. kira-kira menurut bapak yang bagus dan mudah kedepan nya yang mana ya pak??
    terima kasih

    @SUdah dikirim Pak. Terima kasih telah mampir. Ttg pertanyaan kedua, sy tidak punya kapasitas membandingkan.

  9. Johan says:

    Sore pak Asep …, saya boleh tahu produk unit link apa yang pak Asep pakai ? mohon dikirim ke email sy (jongjohanjayadi@yahoo.com), terima kasih sebelumnya

  10. eko says:

    Hallo kang asep…
    Boleh donk sekiranya email saya dibalas.. saya juga masih galau dalam memilih asuransi dan investasi. Salam hangat.. eko

    @Halo juga Mas Eko, saya sudah balas email anda. Pelajari dulu saja sblm memutuskan. Investasi harus, kalau perlu di saham, seperti yg saya lakukan. https://bermenschool.wordpress.com/2012/01/02/belajar-investasi-saham/

  11. firman says:

    kang asep,bisa kah sekiranya saya di beri info utk unit link yg seperti anda sharing diatas.krn insya allah saya jg berminat.thanks

    @Mas Deny, email sdh dikirm. Terima kash sudah berkunjung kemari.

  12. Joe says:

    Kang Asep, idem sama temn2 yg lain. Bisa kah PM info detail unit link-nya? sekarang ini promo unit link lagi gencar2nya. Mohon dikirim ke tghjoe@gmail.com

    @Oke Bro Joe. Saya kirim email ke sampean. Mksh udah mampir di mari.

  13. fozhonx says:

    Kang Asep, tulisan yang mencerahkan bagi saya yg masih bimbang memilih🙂 Btw masih request yang similar dengan rekan2 sebelumnya.. Bisa di-PM nama dan jenis asuransinya? Sampai tahun ke-berapakah saldo masih tersedia di ilustrasi dg return paling pesimis (<6%)? Apa saja perbedaannya dengan non-syariah? Nuhun Kang🙂

    @Hatur nuhun tos mampir kadieu. Saya sudah PM pertanyaannya. Saldo di ilustrasi paling pesimis (5%) berakhir di tahun ke-16. Perbedaan dg yg nonsyariah ada di sisi akad dan penyaluran dana. Yg syariah akadnya antara sesama peserta, yg konvensional akadnya antara nasabah dengan perusahaan. Penyaluran dana unit link syariah pada instrumen investasi yang terdaftar di Daftar Efek Syariah, atau obligasi dan deposito syariah.

  14. ndoro.ndoni says:

    Saya juga minta di-PM produk unitlinknya dong.
    email saya ndoro.ndoni@gmail.com

    Terima kasih,,,,

    @Salam, email sdh saya balas. Terima kasih dah mampir.

  15. richard says:

    Pak Asep yth, trims atas sharingnya, tlg dong di info perusahaan asuransi dan produk UL yg Bpk ambil, beserta info2 yg menurut Bpk lebih baik dari yg lain.
    Trims Pak Asep.

    @Oke Pak Richard, sdah saya PM infonya. Makasih.

  16. bey says:

    sama seperti yang lain, bisa minta tolong di japri UL yang kang asep ikuti dunk🙂

    @Oke. Sudah saya PM. Makasih.

  17. tedy says:

    Sama seperti yg lain, minta diemail produk UL yg Pak Asep ikutin donk..
    thx,pak..

    @Salam, sudah saya email Pak. Makasih.

  18. irma says:

    ass…pa asep thanks atas share nya.dapat menjadi masukan buat saya…bolehkah saya tau unitlink yang bpk maksud dr perusahaan mana? tolong di email ya pak irmairsyan@yahoo.com . terimakasih sebelumnya

    @Waalaikumussalam, terima kasih juga telah main kemari. Email sudah saya kirim.

  19. falia says:

    Produk Unit Link yg Bapak ambil UL Syariah dari perusahaan apa Pak?

    @Salam. Telah saya jawab melalui email. Terima kasih kunjungannya.

  20. Tonank says:

    Pak ! Produknya dari asuransi mana ? Saya suka, karena Saya mau masuk prudential tapi nilainya tdk sebanyak yg punya Bpk, Mhn di krm ke email Saya, Thanks .

    @Oke Pak, email sudah sy kirim. Terima kasih kunjungan dan komentarnya.

    • aris says:

      Kang, boleh tau produk unitlink yg dipake?? Mohon infonya ya kang di emailkan.. Indahnya berbagi. Terima kasih

      @Salam, info udah diemail. Silakan dibuka.

  21. Salam kenal pak Asep,
    bagus artikelnya, menambah referensi saya dalam bersyiar bersama Takaful. Kebetulan saya lg ada calon nasabah yang anti UL dan mdh2an 9 alasannya bisa merubah pendiriannya.Doain ya pak…:-)

    Sukses selalu pak Asep

    • Asep Sopyan says:

      Salam kenal juga Pak Wendy, terima kasih kunjungan dan komentarnya. Saya senang jika tulisan ini membawa manfaat. Salam dan sukses selalu,

      Asep S

  22. Tolong dibisikin kang nama asuransinya, Nuhun^

    @Okeh🙂

  23. reni says:

    salam kenal Pak..
    boleh minta di infokan UL syariahnya Pak?
    terimakasih

    @Baik Bu. Terima kasih kunjungannya.

  24. angga says:

    Salam kenal Pak Asep bisa tolong diinfokan UL yg bpk pake.. terimakasih

    @Salam, Pak Angga, saya pakai Allianz, dan telah setahun lebih jadi agennya. Utk info lebih lanjut, silakan klik di blog saya khusus asuransi: http://myallisya.wordpress.com. Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya.

  25. devinilasari says:

    pak Asep,
    boleh saya minta di info UL yang bapak pakai via japri ke devinilasari77@gmail.com
    terima kasih.

    @Salam, bu Devi, sudah saya infokan ke email ibu. Silakan dicek.

    Salam,
    Asep S

  26. Artikelnya bermanfaat dalam perencaan keuangan agar bisa menilih produk asuransi yang tepat sesuai kebutuhan kelurga. Thank’s.

    @Terima kasih komentarnya.

    Salam,
    Asep S

  27. Ria Aslani says:

    Boleh saya tau produk unit link apa yang pak asep pakai?

    @Salam, bu Ria, saya pakai produk unit link dari Allianz. Alhamdulillah saya juga sudah jadi agennya. Saya punya blog ttg asuransi di sini: http://myallisya.wordpress.com. Silakan mampir. Terima kasih.

    Salam,
    Asep S

  28. galang says:

    Pak asep boleh minta produk yang anda pakai?japri aja ke galangtotosejati@gmail.com

    @Salam, pak Galang. Saya pakai produk dari Allianz. Sekarang sy sdh jadi agennya dan punya blog di myallisya.com. Silakan dikunjungi. Terima kasih.

  29. ivonne says:

    Penjelasan bapak diatas https://asepsopyan.com/2011/10/27/9-alasan-membeli-unit-link-3-catatan/ apa produk yg digunakan dari perusahaan mana dan berapa premi nya mengingat saya hanya pegawai staff biasa, terimakasih

    @Salam, Bu Ivonne. Produk asuransinya dari Allianz dan sekarang saya telah menjadi agennya. Saya punya blog di myallisya.com. Silakan dikunjungi. Terima kasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s