Kiat Mengantisipasi Pengeluaran Tak Terduga ala Safir Senduk

Kita tentu pernah mendengar istilah “pengeluaran tak terduga”, dan mungkin kita termasuk yang kerap mengeluhkannya. Pengeluaran tak terduga bisa berarti pengeluaran itu memang muncul tanpa bisa diduga, atau sebenarnya bisa diduga hanya datangnya terlalu cepat, atau sebenarnya kita bisa mencegahnya hanya saja “tidak berdaya”.

Contoh pengeluaran tak terduga, misalnya sakit, maka harus berobat. Atau tabrakan di jalan, atau rumah kebakaran. Atau ada saudara menginap di rumah beberapa hari sehingga kita perlu menambah pengeluaran ekstra untuk sembako. Atau ada salesman datang ke rumah menawarkan barang, dan kita tak kuasa menolak tawarannya.

Safir Senduk, seorang perencana keuangan terkenal, dalam tabloid Nova nomor 830/XVI menyarankan tiga kiat untuk mengantisipasi pengeluaran tak terduga.

Pertama, tidak semua harus dituruti.

Ada pengeluaran tak terduga yang betul-betul tidak bisa dihindari, tapi ada yang bisa dihindari. Menurut Safir Senduk, salah satu cara untuk menghindarinya adalah dengan melihat kepentingannya. Contoh, kalau kita jalan-jalan di pasar dan melihat barang bagus di sebuah toko, pikirkan apakah barang tersebut betul-betul penting atau tidak untuk dibeli. Dengan demikian kita bisa bijak mengeluarkan uang. Kita juga bisa melihat seberapa sering memakai barang tersebut. Bisa jadi sebuah barang memang bagus untuk dibeli, tetapi ternyata kita tidak akan memakainya sering-sering, atau tidak memakainya dalam waktu dekat.

Sekali lagi, tidak semua pengeluaran tak terduga harus kita turuti. Pakai akal sehat, bukan nafsu. Dan barangkali untuk mencegah kita dari tergoda oleh sesuatu yang bisa menumpulkan akal sehat, sebaiknya tidak usahlah kita iseng jalan-jalan ke mal kalau tidak berniat belanja. Kalaupun ke mal, sebelumnya buatlah rencana belanja, dan cegah dorongan untuk berlama-lama dan berjalan-jalan mengitari seluruh barisan rak di mal. Di samping menghabiskan waktu, hal itu bisa menguras uang juga.

Kedua, membayar dari uang simpanan.

Ketika kita membuat anggaran, hakikatnya kita sedang merencanakan penggunaan pemasukan rutin untuk membayar pengeluaran rutin (termasuk setoran tabungan dan infak). Lalu, apa yang terjadi jika kita harus membayar pengeluaran yang tidak terdapat dalam anggaran yang kita buat itu? Jika kita membayarnya menggunakan uang dari pemasukan rutin, kemungkinan besar anggaran kita akan “rusak” karena pemasukan rutin kita memang hanya diatur untuk membayar pengeluaran rutin.

Untuk mengantisipasi kejadian seperti ini, Safir Senduk menyarankan sebaiknya kita memiliki simpanan uang tunai untuk membayar pengeluaran yang sifatnya tidak rutin dan tidak terduga tersebut. Dengan demikian, pemasukan rutin kita tidak digunakan untuk membayar selain yang rutin.

Ketiga, mengambil sejumlah asuransi.

Safir Senduk mengingatkan bahwa ada sejumlah pengeluaran yang sebetulnya bisa diasuransikan. Contohnya kebakaran, sakit, kecelakaan, dan kerusakan kendaraan. Semua itu bisa tidak terduga datangnya. Jadi ambillah polis asuransi untuk menanggulangi biaya besar yang ditimbulkan kejadian-kejadian tersebut, misalnya asuransi rumah, asuransi kesehatan, asuransi kendaraan, hingga asuransi jiwa. Jika kita tidak mengambil asuransi, lalu salah satu kejadian tidak terduga – tapi sebetulnya bisa diduga – tersebut datang menimpa kita, salah-salah tabungan dan aset kita bisa habis tergerus.

Memang untuk ikut asuransi itu perlu biaya. Namun kita bisa memasukkannya dalam anggaran rutin kita. []

This entry was posted in Serba-serbi and tagged , , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Kiat Mengantisipasi Pengeluaran Tak Terduga ala Safir Senduk

  1. zakaria says:

    Mantap, makasih sharingnya.

    @Terima kasih. Sama-sama.

  2. farissy says:

    Kira-kira supaya bisa ikutan kayak begono dibutuhkan gaji perbulan berapa ya mas selain untuk kebutuhan makan-minum, biaya listrik, telpon, sekolah anak, ongkos transportasi, de el el?

    @Saya kira sepanjang masih ada “sisa” dari segala kebutuhan rutin tsb, kita bisa kok menyisihkan penghasilan utk mengantisipasi hal2 yg tak terduga itu. Tapi biarpun sebutannya “sisa”, dikeluarkannya harus di awal. Misalnya ikut asuransi, anggaplah dana sisa yg utk asuransi itu sbg cicilan rutin biasa kayak cicilan listrik dan telepon. Makasih sdh berkunjung.

  3. muhsyaefudin says:

    Terimakasih banyak atas ilmunya ….
    salam ……….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s