Kelahiranmu, Cahaya Senja, Ayah Tandai dengan Dua Bibit Pohon Buah

Sehari setelah kamu lahir, wahai anakku Cahaya Senja, ayah menanam dua bibit pohon buah di kebun kakekmu. Buah mangga simanalagi dan buah jeruk. Ayah membelinya di tukang bibit buah di daerah Maja, Pandeglang. Harganya 30 dan 40 ribu. Itu adalah harga yang diucapkan penjualnya, dan ayah tidak menawarnya sama sekali. (Sampai di rumah, nenekmu berkata bahwa harganya paling-paling 10-15 ribuan).

Ayah berangkat ke sana pukul empat sore, hari Selasa, ditemani oleh bibimu, Nida. Bibimu telah bersekolah di kelas 1 SD. Sepanjang jalan di atas motor, ayah menyuruh dia membacai apa saja yang tertulis di pinggir jalan. Dan dia pula yang menemukan tempat menjual bibit buah itu. Selain membeli bibit, ayah membeli pula sekarung kecil pupuk kompos seharga 10 ribu.

Pulang dari sana, kami sampai di rumah pukul lima kurang seperempat. Ayah langsung membawa dua bibit tsb ke kebun yang terletak sekitar 100 meter dari rumah nenekmu. Sudah ada dua lubang menanti di sana, yang ayah gali seminggu sebelumnya. Tapi ayah membuat lagi satu lubang, karena ayah merasa salah satu lubang itu letaknya terlalu dekat dengan jalan setapak tempat orang lalu lalang.

Senja pun turun, disusul gerimis tipis. Awan tebal melapis seluruh permukaan langit. Hanya kelabu keputihan di ufuk barat, dan gunung karang pun berselimut kabut.

Cahaya senja nyaris tak tampak. Tapi ayah yakin ia tetap berkilauan di atas sana.

Pertama ayah menanam bibit jeruk. Sebelumnya ayah membaca surah al-Fatihah lalu memercikkan ludah ke dalam lubang. Setelah ditimbun, ayah berdoa agar pohon jeruk itu tumbuh subur dan berbuah lebat.

Lalu ayah menanam bibit mangga. Surah dan doa yang sama ayah panjatkan setelah bibit tertanam sempurna.

Ayah menatap hasil karya ayah beberapa jenak. Semoga keduanya tumbuh seiring pertumbuhanmu. Kelak, setiap kita pulang kampung, kamu akan memanjat keduanya dan memetik buahnya dengan gembira.

Dalam hidup ini kita berutang banyak pada bumi. Atas izin Tuhan, bumi menyediakan untuk kita tempat berpijak, air dan makanan, udara, serta hal-hal lain yang kita butuhkan. Maka ayah berencana akan menanam buah lagi dan lagi di hari ulang tahunmu. Begitu pula di hari ulang tahun ibumu dan ulang tahun ayah. []

This entry was posted in Cathar, Personal and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Kelahiranmu, Cahaya Senja, Ayah Tandai dengan Dua Bibit Pohon Buah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s