Tentang Namamu: Cahaya Senja

Untuk anakku yang baik dan hebat, yang lahir di Pandeglang, 28 November 2011/2 Muharam 1433, pukul 17.43, ayah ucapkan terima kasih karena proses kelahiranmu tergolong cepat. Pukul dua siang ibumu mulai merasa mulas, pukul tiga ayah membawanya ke bidan, menjelang magrib kamu sudah muncul ke dunia. Alhamdulillah. Kamu tampak cantik. Segera setelah badanmu dibersihkan oleh Bu Bidan Titin Prihartini, kamu pun merangkak dan menggeliat di atas dada ibumu.

Tiga jam kemudian, kita pulang ke rumah nenekmu. Beda satu blok saja dengan rumah bidan. Kamu dibawa oleh nenekmu. Sementara ibumu, dengan berpegangan pada ayah, jalan kaki pulang ke rumah.

Keesokan harinya ayah datang lagi ke bidan, mengantar sebuah nama untuk pembuatan akta kelahiranmu. Namamu: Cahaya Senja.

Tentang nama itu, sudah lama kami merencanakannya, terutama sejak hasil USG memperkirakan jenis kelaminmu perempuan. Mungkin kelak kamu ingin tahu kenapa kami menamaimu Cahaya Senja. Ayah akan menjelaskannya di sini, dan kamu boleh membacanya segera setelah kamu bisa membaca.

Begini.

Pertama, secara kebetulan, atau Tuhan sudah merencanakan, kamu lahir di waktu senja. Seperempat jam sebelum magrib, waktu itu mungkin matahari tengah terbenam separuhnya. Meski kami tidak melihatnya, tentu di luar cahaya senja tengah memancar ke dunia. Bahkan meskipun waktu itu langit dipenuhi awan, cahaya senja tetaplah bersinar, terlihat maupun tidak oleh manusia.

Ini adalah alasan pertama dan terutama. Seandainya kamu lahir bukan di waktu senja, tentu nama Cahaya Senja tidak cocok, dan ayah-ibumu harus memikirkan nama lain.

Kedua, ayah menghendaki nama dengan nuansa lokal atau Indonesia. Ada banyak pilihan nama lokal, seperti Neng, Nining, Euis, Sari, nama ibumu (Desi Susanti), atau nama putri-putri kerajaan Nusantara zaman dulu. Tapi ayah menginginkan nama yang memiliki arti dan artinya bisa dicari dalam kamus.

Kebanyakan orangtua memilih nama anaknya dengan nama bernuansa luar atau dari bahasa asing, misalnya Arab dan Eropa. Bahasa Arab sebetulnya tidaklah asing bagi kami; setiap hari kami melafalkannya, dan kelak kamu pun demikian, baik mengerti artinya maupun tidak. Tapi ayah merasa namamu dalam bahasa Indonesia lebih indah dan puitis ketimbang jika namamu diarabkan.

Ketiga, ayah menyukai nama yang sederhana, pendek, serta sama antara pengucapan dan penulisan. Namamu terdiri dari dua kata, dan itu cukup. Tiga kata, empat kata, apalagi lebih, akan merepotkanmu di masa yang akan datang, misalnya ketika kamu mengisi biodata di lembar jawaban ujian masuk perguruan tinggi.

Ada orang yang ketika memperkenalkan namanya, dia harus pula menjelaskan cara menuliskannya. Ini terjadi pada nama-nama berbau asing, yang mengandung huruf-huruf meragukan, apakah i atau y, kh/ch/h, f/v, k/c/ck, k/q, dan sebagainya. Kelak ketika kamu sudah masuk sekolah, kamu akan mendapati beberapa temanmu harus melakukan itu saat memperkenalkan namanya di depan kelas. Makanya sejak awal ayah sudah menghindarkanmu dari kesulitan itu.

Mungkin soal ini terdengar sepele, tapi akibatnya terkadang bisa merepotkan seumur hidup. Dan ayah pernah mengalaminya. Ayah pernah memakai nama belakang Sofyan dan selalu bilang “pakai f” setiap kali memperkenalkan nama. Tanpa peringatan itu, orang akan menuliskannya secara salah, mungkin Sopian, Sopyan, atau Sofian (f-nya betul tapi y-nya salah). Tapi ternyata ayah pun keliru. Saat ayah melihat akta kelahiran, yaitu ketika ayah lulus kuliah, tertulis “Sopyan”.

Nama ibumu pun bisa ditulis secara lain. Nama Desi bisa ditulis “Desy”, atau “Dessy”, atau “Deasy”, dsb.

Ayah tidak suka yang semacam itu.

Keempat, meskipun sederhana, bukan berarti namamu tidak punya makna. Bahkan makna dari namamu sangat tidak sederhana. Kebanyakan orang tidak sanggup menerapkannya.

Kelak kamu akan melihat, dan ayah akan sering mengajakmu melihatnya, cahaya senja adalah hadiah terindah dari matahari di antara rangkaian cahaya yang terus ia pancarkan sepanjang hari. Artinya – ah, tentu kamu bisa menebak, kelak – bahwa ayah berharap kamu pun menjadi hadiah terindah yang diberikan Tuhan untuk kami. Dan, jika mungkin, untuk manusia pada umumnya.

Cahaya senja adalah juga persembahan penghabisan dari matahari sejenak sebelum tenggelam. Dengan kata lain, seperti ungkapan Chairil Anwar: Sekali berarti sudah itu mati. Ya, berikan selalu yang terbaik dari dirimu dalam hidup ini, barulah setelahnya kamu boleh meninggalkan dunia ini dengan senyuman.

Meskipun sangat indah, cahaya senja hadir dalam waktu yang singkat saja. Hanya setengah jam, dari sekitar 13 jam yang digunakan matahari untuk menyinari bumi dalam sehari. Di sini ayah ingin berkata, “Kamu menyikapi dunia hendaklah seperti orang memandang cahaya senja. Indah, memikat, mengesankan, memesona. Tapi semua tahu cahaya senja tidaklah lama, dan tak satu pun yang keberatan dengan itu.”

Dalam ungkapan yang lebih pendek, cahaya senja adalah lambang keindahan dan kefanaan. Kefanaan bukanlah aib ataupun kelemahan, bukan pula sesuatu yang patut diratapi. Kefanaan adalah keniscayaan hidup di dunia, dan hendaklah ini selalu disadari oleh setiap manusia.

Ayah bicara tentang kefanaan, tentang matahari terbenam, bahkan menyebut-nyebut soal mati, bukan berarti ayah menginginkan kamu lekas mati. Maaf, bahasa ayahmu ini terdengar kasar. Tapi sejak awal ayah ingin mengingatkan, mati bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti. Mati itu keniscayaan. Hidup-matinya manusia sudah ditentukan oleh Tuhan, dan kita harus siap kapan saja, menerima dengan rela, tanpa protes dan kalau perlu dengan syukur.

Tentu ayah berharap kamu akan hidup dengan umur seperti manusia pada umumnya. Apakah itu singkat atau lama, sangat relatif tergantung dari mana memandangnya. Tapi yang pasti, dibanding rentang kehidupan secara total, masa hidup di dunia ini tak terhingga singkatnya, ibarat sebuah titik dalam sebentang garis.

Cahaya senja dapat pula dijadikan simbol kehangatan dan cinta. Ketika senja, matahari telah kehilangan teriknya. Pada saat itu setiap orang dapat melihat matahari secara langsung tanpa harus mengejapkan mata. Sekitar setengah jam, setiap orang dapat menikmati semburat warna-warni indah di langit barat. Merah, jingga, kuning keemasan. Jika ada awan, akan muncul pula nuansa kelabu dan keunguan. Pada saat itu, hati siapakah yang dengan bodohnya masih tega menyimpan dendam?

Kelima, ayah menggemari cerita-cerita yang dikarang Seno Gumira Ajidarma, dan dia banyak bercerita tentang senja. Di antara karyanya tentang senja yang ayah sukai: Sepotong Senja untuk Pacarku (cerpen) dan Negeri Senja (novel). Mungkin kamu akan menyukainya juga, meski ayah tak bisa memaksa, sebab kelak duniamu sudah berbeda.

Keenam, ayah memiliki sebuah komunitas sastra bernama Senjakala. Ayah dan teman-teman sesama pencinta sastra sering berdiskusi di sana setiap Rabu senja. Ketika ayah memberitahukan namamu kepada mereka lewat sms, ki lurah Senjakala menjawab bahwa ia “gemetar” mendengar namamu.

***

Entah kebetulan atau bagaimana, dua kejadian berikutnya setelah kamu lahir berlangsung di waktu senja. Pertama, keesokan harinya, ayah menanam dua batang pohon buah-buahan untuk menandai kelahiranmu, dan waktunya saat senja. Sebetulnya ayah berencana membeli bibit buah di pagi atau siang hari, tapi pada pagi hari ayah masih asyik bermain-main denganmu, dan siangnya turun hujan sehingga ayah tak bisa bepergian. Barulah pada pukul empat ayah berangkat membeli bibit buah, kembali pukul lima kurang seperempat, lalu langsung ayah bawa ke kebun untuk ditanam. Lubangnya telah ayah buat seminggu sebelumnya, juga di waktu senja. Ayah pulang dari kebun pas magrib.

Kedua, kakekmu menyembelih kambing untuk aqiqahmu, seminggu kemudian, juga di waktu senja. Kebetulan kambingnya baru datang pukul empat, maka segera disembelih oleh kakekmu, dibantu ayah dan pamanmu, hingga selesai menjelang magrib.

Jadi, Cahaya Senja, namamu sangatlah cocok dengan banyak hal, sebelum maupun sesudah kelahiranmu, dan sesuai dengan kecenderungan hati dan pikiran ayah. Itu nama paling indah yang bisa ayah berikan untukmu. Semoga kamu bahagia dengan nama itu. []

This entry was posted in Cathar, Personal and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

8 Responses to Tentang Namamu: Cahaya Senja

  1. Akmal says:

    Bisa saja juga orang salah tulis: Cahya Senja, Cahaya Senza, Chayya-chayya, dst. He..

    @Kalau itu sih kupingnya harus diperiksa :)))

    • yoe says:

      hahaha… parah!. mata yg komen jg hrs d periksa deh. udah jelas si Ayah d awal ngejelasin klo namanya “Indonesia” malah Chayya-chayya dy mah… hahaha

      @Dia emang begitu.

  2. muamdisini says:

    bang..saya jadi terinspirasi jika nanti punya anak..ingin memberi nama anak yang Indonesia saja deh…
    bener-bener puitis bang….
    hmm..itu nanti kalau sudah besar, nama panggilannya apa bang?
    aya? nja?..hihihi😀

    @Ya, ya, bagus sudah terinspirasi. Aku memanggilnya Cahaya atau Cahaya Senja, biar maknanya tidak terpotong
    🙂

  3. Kang, aku pengen nikah dan menamai anakku; Pablo

    @Bagaimana kalau anakmu perempuan? Hehe

  4. Pingback: Teguh Jiwa, The Next Leader | Perjalanan Pikiran

  5. Yessyka says:

    Sepertinya saya juga mengalami kasus yang serupa, saya harus mengeja nama saya agar tidak salah tulis nama. pakai y, tulis s-nya dua, bla bla bla.. terkadang saya malah jawab ‘terserah’ jika ada yang tanya ejaannya seperti apa saking malesnya. Haha~
    Pun saya juga berpikir demikian, saya ingin menamai anak saya kelak dengan nama dan ejaan yang sederhana, namun tetap dengan sejuta doa tersimpan di dalamnya, dan jujur saja, Senja salah satu nama yang saya suka.. ^_^

    @Terima kasih komentarnya, bu Yessyka. Ditunggu nama anaknya yg sederhana dan indah🙂

  6. senja says:

    kebetulAN banget nama saya juga senja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s