4 Kriteria Saham Koleksiku

Sebetulnya, dengan modal-disetor-ku yang masih “mikro”, aku tidak layak neko-neko dengan kriteria-kriteria segala macam. Tapi tak ada salahnya jika sedari awal aku menetapkan empat kriteria saham di bawah ini, yang mungkin terbilang lumayan ketat.

Pertama, sesuai syariah.

Cara melihatnya mudah saja, yaitu terdaftar di DES (Daftar Efek Syariah) dan lebih bagus lagi jika termasuk dalam JII (Jakarta Islamic Index). Kriteria saham-saham syariah di antaranya perusahaan tidak melakukan kegiatan usaha yang bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah, seperti usaha perjudian, jasa keuangan ribawi (bank dan asuransi konvensional), barang-barang haram (miras, babi), dan barang-barang yang mudarat (rokok).

Dan di Indo Premier Securities, broker saham yang kulanggani, caranya lebih praktis lagi, karena ada software khusus trading saham syariah. Program ini hanya menampilkan saham-saham yang memenuhi standar syariah, jadi investor yang warak (hati-hati) tak akan keliru membeli saham.

Sebetulnya saham-saham di luar DES belum tentu tidak sesuai syariah, karena yang dilarang syariah itu sedikit. Saham-saham yang ada di DES pun setiap periode tertentu bisa saja didepak keluar jika terbukti melakukan aktivitas-aktivitas tidak sesuai syariah. Dengan mencermati laporan keuangan apakah sehat atau tidak, dan berapa nisbah utangnya di bank konvensional dibandingkan terhadap modal, aku bisa saja mengambil saham-saham di luar DES yang berdasarkan kriteria saham tersebut tidak bertentangan dengan nilai-nilai syariah.

Kedua, ramah lingkungan

Ramah lingkungan berarti tidak merusak lingkungan, setidaknya tidak secara langsung. Di sini aku menjauhi saham dari sektor pertambangan, sebab aktivitas pertambangan hampir pasti merusak alam sekitarnya. Tapi dari sektor pertambangan aku punya pengecualian, yaitu pertambangan gas alam. Aku tidak tahu bagaimana cara gas ditambang, tapi gas adalah bahan bakar yang lebih ramah lingkungan dibanding minyak bumi dan batubara. Contoh saham pertambangan antara lain ANTM (Aneka Tambang), INCO (International Nickel Indonesia), PTBA (Tambang Batubara Bukit Asam), dan HRUM (Harum Energi).

Saham lainnya yang juga kuhindari adalah perusahaan yang memproduksi kendaraan bermotor, termasuk yang hanya membuat ataupun mengedarkan suku cadangnya. Sejauh ini kendaraan yang lazim beredar bahan bakarnya masih minyak bumi. Membeli saham pabrik kendaraan berarti ikut mendukung membludaknya jumlah mobil dan motor di jalanan, yang jelas-jelas bikin macet, konsumsi BBM tinggi, dan sumber polusi udara. Contoh saham kategori ini antara lain ASII (Astra Internasional).

Lainnya adalah saham pabrik plastik. Tadinya aku mau beli TRST (Trias Sentosa) karena harganya murah (PER-nya kecil), tapi setelah kutahu ini perusahaan pembuat plastik, aku urungkan niatku. Plastik adalah musuh pencinta lingkungan, meski harus diakui sangat dibutuhkan dan aku sendiri tak bisa menghindar darinya.

Pilihanku kemudian adalah di sektor-sektor selain yang tiga itu, meski sebetulnya sektor-sektor yg lain pun belum tentu ramah lingkungan. Sektor properti dan konstruksi, misalnya, pasti dia membuka lahan di mana bisa jadi lahan tsb tadinya sawah atau hutan. Tapi jika propertinya dikembangkan dengan mempertimbangkan keharmonisan dengan lingkungan, aku memberikan toleransi. Misalnya saham BSDE (Bumi Serpong Damai) dan ASRI (Alam Sutera).

Sektor pertanian/perkebunan pun belum tentu ramah lingkungan, sebab dia mengubah ekosistem dari yang tadinya aneka ragam menjadi monokultur (misalnya hutan dijadikan perkebunan sawit). Tapi setidaknya perusahaan pertanian mengganti pohon dengan pohon lagi.

Ketiga, dimiliki oleh pengusaha yang berintegritas.

Pada dasarnya menjadi pengusaha itu pekerjaan yang baik dan mulia, sebab dia berkontribusi besar bagi perekonomian masyarakat dan kemajuan negeri ini. Namun pengusaha tertentu terkadang tersangkut kasus yang merugikan negara dan rakyat banyak.

Di sini aku akan mengecualikan saham-saham perusahaan milik pengusaha yang bermasalah, di antaranya Aburizal Bakrie. Selain ditengarai beberapa kali memanipulasi laporan keuangan, Ical juga bermasalah soal pajak dan lumpur Lapindo. Bakrie dan konco-konconya dikenal suka goreng-menggoreng harga saham. Di bidang politik, sepak terjang Ical juga tidak kusukai. Satu-satunya kebaikan Ical, menurutku, hanyalah bahwa mereka menyelenggarakan Ahmad Wahib Award (di mana dulu aku pernah jadi nominatornya) dan Penghargaan Ahmad Bakri utk para sastrawan dan ilmuwan. Saham-saham milik Bakri adalah BUMI (Bumi Resources), BTEL (Bakrie Telecom), UNSP, DEWA (Darma Henwa), ELTY, BNBR, dan ENRG.

Perusahaan milik Tomy Winata juga tampaknya harus kusingkirkan dari daftar pilihanku, sebab konon dialah yang dulu menyuruh bakar pasar Tanah Abang sebelum dibangun seperti sekarang. Tapi aku belum tahu perusahaan apa saja milik Tomy yang terdaftar di BEI.

Para pengusaha yang dulu mengemplang dana BLBI, apalagi jika sampai sekarang belum bertobat (belum melunasi utang), juga tidak akan kubeli saham-saham perusahaannya.

Peerku ke depan adalah mencari tahu siapa pemilik perusahaan yang sahamnya kuincar, lalu mempelajari bagaimana karakter orang tersebut dan rekam jejaknya di masa lalu.

Beberapa pengusaha kakap akan kupelajari sepak terjangnya, antara lain Tutut, Hary Tanoesoedibjo, Franky Wijaya, Edwin Surjadjaya, Anthoni Salim, James Riady, Chairul Tanjung, Ciputra, dan Bob Sadino. Tutut aku tahu berasal dari keluarga Cendana, tapi terhadap pribadi Tutut sendiri aku cukup respek. Lainnya aku baru dengar namanya dan sedikit profilnya.

Keempat, fundamental perusahaan bagus.

Selain tiga kriteria etis di atas, tentunya saham-saham yang kukoleksi harus memenuhi kelayakan menurut ukuran-ukuran fundamental, seperti PER-nya rendah, PBV-nya rendah, DER (rasio utang terhadap modal) masuk akal, untung terus dan tumbuh, dll. Di sini pertimbangannya adalah bisnis: agar keuntungan dapat diraih secara maksimal dan sahamnya bisa dikoleksi untuk jangka panjang.

Untuk sementara kriteria keempat ini belum sepenuhnya kupenuhi. Maklumlah baru belajar, jadi belum paham benar mana saham yang prospektif dan yang tidak.

Kurasa itu dulu kriteria yang kutetapkan untuk saham-saham yang akan kukoleksi. Mungkin masih ada lagi nanti, berdasarkan standar nilai-nilai yang kupegang. Tapi kalau terlalu banyak kriteria, mungkin aku malah tidak jadi investasi saham. Jadi cukup dulu.

Simpulannya, ini dia kriteria sahamku:

  1. Sesuai syariah (Bukan saham perbankan, bukan saham rokok, bukan saham miras, dll)
  2. Ramah lingkungan (Bukan saham tambang kecuali gas, bukan pabrik kendaraan, bukan perusahaan plastik)
  3. Pengusahanya berintegritas (No Bakri, no Tomy, no pengemplang BLBI)
  4. Fundamental bagus (PER dan PBV dan DER rendah, untung terus dan tumbuh, prospektif)

Selebihnya oke. []

This entry was posted in Investasi and tagged , , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to 4 Kriteria Saham Koleksiku

  1. Terima kasih sudah berkunjung ke blog saya, BolaSalju. Menarik sekali apa yang Anda sajikan di sini. Pada prinsipnya, saya pribadi, punya prinsip yang hampir sama. Tapi saya tidak seketat Anda🙂

    Misal, saya punya prinsip tidak masuk pertambangan (belakangan baru saya tekadkan hal ini). Saya juga tidak masuk perusahaan bir. Tapi saya masih oke terhadap perbankan, peternakan babi (misalnya), plastik, motor kalau menurut kriteria di atas. Prinsip saya sih, asal perusahaan memproduksi barang merusak (diri sendiri dan orang lain), saya tidak masalah. Mengkonsumsi babi itu haram, tapi produksi babi untuk dikonsumsi non-muslim, sepertinya tidak masalah bagi saya. Untuk plastik dan motor, saya rasa sudah ada teknologo recycling dan motor pun, gimana lagi?🙂

    Kalau mengikuti aturan Anda di atas akan sangat sedikit saham yang masuk, lho! Misa, Alfamart aja bisa gak masuk karena menjual bir🙂

    Pertanyaan saya, kenapa aturan investasinya cuma yang dua poin paling akhir aja? Saya rasa Anda perlu fokus dulu pada aturan perusahaan bagus (fundamental), profitabilitas jangka, manajemen yang oke dan ramah pada investor, juga margin of safety yang lebar. Aturan saya 30% untuk perusahaan besar (blue chip/LQ-45), lebih banyak untuk perusahaan kecil. Setelah itu baru mencari perusahaan dengan faktor risiko paling kecil.

  2. Ralat = Harusnya ini -> “Prinsip saya sih, asal perusahaan TIDAK memproduksi barang merusak (diri sendiri dan orang lain), saya tidak masalah.”

    • Asep Sofyan says:

      Salam,

      Terimakasih Bolasalju telah menggelinding kemari. Saya menetapkan kriteria2 tsb berdasarkan nilai-nilai yang saya yakini benar. Tidak merusak diri sendiri dan orang lain itu bagus, tapi belum cukup. Dia juga tidak boleh merusak alam. Sebab merusak alam, pada gilirannya, akan merugikan pula manusia-manusia penghuni alam.

      Memang beberapa barang yg merusak alam, seperti plastik dan kendaraan berbahan bakar BBM, sudah menjadi bagian dari hidup manusia dan tidak bisa dihindari penggunaannya. Tapi saya tidak ingin menjadi bagian dari orang2 yang ikut berkontribusi membuat barang-barang tsb (dengan membeli sahamnya).

      Ttg saham ALFA, saham ini masuk Daftar Efek Syariah, dan ada di mesin Ipot saya. Saya sering belanja di Alfamart, tapi belum pernah melihat ada minuman keras dijual di sana. Tapi nanti saya cek lagi, terutama Alfamart di komunitas2 nonmuslim. Kalau ada dia jual bir, saya kira tetap tidak bisa ditoleransi karena larangan miras itu bukan hanya utk kaum muslim. Di Amrik pun miras tidak dijual bebas, sependengaran saya.

  3. Anda benar, saya baru menengok Alfamart terdekat, ternyata mereka tidak menjual bir. Mungkin Indomaret. Maaf kalau saya bingung membedakan mereka🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s