Belajar Investasi Saham

Ciater, Ahad 1 Januari 2012

Pada 12 Desember 2011 aku membuka rekening di Indo Premier Securities. Sebelumnya aku telah menyurvai beberapa perusahaan sekuritas (nama yang aneh, sebab di sini uang kita sebetulnya sangat tidak aman; bisa rugi meski juga bisa untung. Istilah “pialang” atau “broker” jauh lebih tepat), dan aku pilih Indo Premier karena dia tidak mensyaratkan deposit awal yang tinggi untuk ukuranku.

Broker lain mensyaratkan minimal deposit ada yang 2 juta, 5 juta, 10 juta, bahkan 25 juta. Tapi Indo Premier hanya 100 ribu rupiah! Tentunya 100 ribu rupiah tak akan berarti apa-apa untuk diputar di saham, tapi setidaknya broker yang ini sangat ramah terhadap pemodal mikro sepertiku (bukan kecil lagi, tapi “mikro”).

Ya. Dan empat hari kemudian aku mulai menyetor uang deposit sebesar 1,4 juta. Itulah uang yang kupunya dan cukup nganggur setidaknya bulan itu (Desember). Dan pada hari itu juga (Jumat 16 Desember 2011), aku mulai membeli saham. Waktu itu IHSG lagi baik sekali setelah hari sebelumnya Fitch merilis peringkat utang Indonesia naik dari BB+ menjadi BBB-. Tapi sayang, aku mulai membelinya sore hari, setelah harga saham-saham pada menguat. (Gimana lagi, aku setor uangnya pukul 10 pagi, dan baru terkonfirmasi jam 2-an setelah sesi istirahat siang).

Saham yang kubeli pertama kali adalah ASRI (Alam Sutera) dan MDLN (Modern Land); dua-duanya properti. ASRI kubeli dengan harga 460 per unit (istilah lazimnya “lembar”, tapi karena sekarang ini investor tidak lagi memegang bentuk fisik dari lembaran saham, kupikir istilahnya perlu dikoreksi. Unit adalah istilah resmi utk penyertaan reksadana), sebanyak 3 lot (1 lot 500 unit). Total 690 ribu. MDLN kubeli dengan harga 260 per unit sebanyak 5 unit, total 650 ribu. Sisa depositku 57 ribu.

Beberapa hari kemudian, baru kutahu bahwa aku melakukan kesalahan. Seharusnya aku tidak membeli kedua saham tsb di harga segitu, karena hari-hari dan minggu-minggu selanjutnya, harga keduanya malah cenderung turun. ASRI sedikit lebih baik karena sesekali sempat melewati 460, namun MDLN belum sekalipun balik lagi ke angka 260. (Saat artikel ini ditulis, ASRI harganya 460, dan MDLN harganya 240).

Sesuai anjuran para investor senior, kita jangan panik ketika harga turun. Justru itu adalah saat untuk menambah kepemilikan. Namun aku belum bisa menambah beli saham karena uangku hampir habis. Maka pada tanggal 20 Desember, ketika aku mendapat rezeki lagi, kutambah depositku sebesar 500 ribu. Rencanaku, setiap bulan aku akan menambah deposit minimal 500 ribu. Ini namanya investasi dengan metode bamboo investing (mencicil).

Sekarang aku telah menambah saham MDLN menjadi 8 lot. Aku membeli 1 lot ketika harganya 250, 1 lot di harga 245, dan 1 lot di harga 240. Sekarang harga rata-rata saham MDLN-ku adalah 254 koma sekian. Lumayan turun dari 260 di awal beli.

Sementara itu, saham ASRI-ku tinggal 1 lot. Aku menjualnya dua kali ketika harganya menyentuh 465 (untung 5 rupiah per unit, alias 2000 lebih per lot [2500 dipotong biaya transaksi]). Mengamati pergerakan harga saham-saham yang sedang turun, aku kerap tergoda untuk membelinya. Dan untuk membelinya uangku terbatas, maka salah satu cara adalah menjual saham yang ada walaupun untungnya masih kecil.

Sekarang, portfolioku adalah:

–          MDLN: 4000 unit (8 lot), harga rata-rata 254,

–          TOTL: 1500 unit (3 lot), harga rata-rata 280

–          ASRI: 500 unit, harga rata-rata 260

–          MRAT: 500 unit, harga rata-rata 520

TOTL (Total Bangun Persada) pertama kubeli 1 lot seharga 185/unit. Ternyata turun, maka kubeli lagi 1 lot di harga 180/unit. Ternyata turun lagi, maka kubeli 1 lot lagi di harga 175/unit. Sekarang harga rata-ratanya 180 (belum ditambah biaya transaksi nol koma sekian). MRAT (Mustika Ratu) kubeli di harga 520, dan saham ini turun naik di sekitar harga itu. Aku ingin menjualnya jika ada untung (di harga 530 atau lebih), untuk mengurangi harga rata-rata MDLN.

Dari saham-saham yang telah kujual, dalam tiga minggu aku telah mendapat untung sekitar 6000 rupiah (0,3%). Tapi dari total portfolio, saat ini aku masih berpotensi rugi sekitar 20 ribu (1%). Kusebut berpotensi, karena pada dasarnya keuntungan/kerugian dalam investasi saham itu baru terealisasi kalau sudah dijual. Sepanjang saham yang kita miliki belum dilepas, keuntungan maupun kerugian baru berupa potensi saja.

Potensi kerugian 2% masih bisa kutoleransi, dan aku yakin dalam jangka panjang harga saham akan naik, asalkan kita memilih saham dengan fundamental bagus.

Di sini aku melakukan kesalahan. MDLN kubeli beberapa hari sebelum emiten tsb melakukan aksi korporasi right issue (penerbitan saham baru) di harga 250. Pantesan harganya di situ terus, malah sering turun ke angka 240. Right issue kurang disukai investor dan kurang baik bagi pergerakan harga saham karena itu menandakan perusahaan sedang membutuhkan modal baru. Mendingan kalau modal barunya untuk ekspansi usaha. Kalau untuk bayar utang? Sialnya, aku belum tahu dana hasil right issue itu digunakan untuk apa. Seharusnya aku mencari tahu, tapi kok belum ya?

Syukurnya fluktuasi saham MDLN tidak dalam jatuhnya dan masih bisa kutoleransi. Tapi aku ingin menjualnya begitu ada untung, berapa pun untungnya. Aku ingin pindah ke saham lain, dan telah kutemukan saham yang masih murah dengan prospek lumayan. Tapi uangnya masih tertahan di MDLN.

Okelah, namanya juga baru belajar investasi. Sedikit kesalahan tak apalah, itu jadi pelajaran untuk langkah berikutnya. []

This entry was posted in Investasi and tagged , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Belajar Investasi Saham

  1. WahyoeMSC says:

    Masih kurang paham nih -_-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s