3 Kelas Aset menurut Kiyosaki

Dalam satu bulan terakhir ini saya menamatkan tiga buku karya Robert T Kiyosaki. Pertama berjudul The Cashflow Quadrant, lalu Rich Dad Poor Dad, dan kemudian Who Took My Money. Ketiga buku ini, juga satu buku lagi yang belum selesai saya baca, saya pinjam dari seorang nasabah asuransi saya.

Saya ingin mengulas buku yang terakhir saya baca.

Who Took My Money menyadarkan saya akan kelemahan investasi dalam saham dan reksadana, yaitu kurangnya kendali atas uang kita. Pada reksadana, kita menyerahkan uang kepada orang yang tidak kita kenal (manajer investasi), lalu berharap dia akan bekerja dengan baik mengembangbiakkan uang kita. Tapi entah dia bekerja baik atau buruk, dia tetap dibayar. (Saya tidak berinvestasi melalui reksadana, kecuali pada asuransi unit link yang saya dan istri saya beli. Itu pun tujuannya bukan investasi, tapi asuransi).

Pada saham, kita menyerahkan uang ke broker saham, lalu kita membeli sendiri saham-saham yang kita inginkan. Apakah harga saham itu akan naik atau akan turun, kita tidak tahu dan tidak bisa mengendalikan.

Kiyosaki tidak memprioritaskan investasi pada surat berharga. Saham hanyalah hidangan penutup bagi dia, yaitu ketika dia kelebihan uang tunai dari arus kas yang mengalir dari investasinya di kelas aset yang lain, real estat dan bisnis.

Ya, menurut Kiyosaki, ada tiga kelas aset, yaitu bisnis, real estat, dan surat berharga (saham, obligasi, reksadana). Di antara ketiganya, bisnis paling banyak mengalirkan arus kas dan keuntungan, namun paling sulit dimiliki, dibangun, dan dikendalikan (meskipun kendalinya berada di tangan sendiri).

Real estat paling mudah dikenai leverage (daya ungkit melalui utang), asetnya nyata, namun sulit dimasuki oleh orang yang bermodal kecil atau tanpa modal, atau tidak punya jaminan (misalnya SK PNS). Selain itu, real estat tidak mudah dijual jika kepepet butuh uang.

Sedangkan surat berharga paling mudah dimasuki dan paling mudah keluar (sangat likuid), namun kontrol atas hasilnya berada di luar jangkauan kita. Kiyosaki tidak suka berinvestasi di bidang yang tidak bisa dia kendalikan, kecuali surat berharganya itu ada jaminan keuntungan dan tidak akan rugi, misalnya obligasi pemerintah bebas pajak.

Saat ini saya justru memasuki kelas aset yang tidak disukai oleh Kiyosaki, yaitu saham. Dia menganggap investasi di saham (beli, tahan, berdoa semoga harganya naik) sebagai judi, karena kita tidak tahu dan tidak bisa mengendalikan apa yang akan terjadi.

Tapi biarlah, setidaknya sahamlah saat ini yang bisa saya masuki dengan modal kecil dan dicicil, serta potensi keuntungan cukup besar. Kelak jika akumulasi modal saya sudah cukup besar, saya akan memasuki kelas aset yang lain.

Saya juga tidak setuju jika dikatakan investasi saham itu judi. Jika kita tahu saham apa yang kita beli, model bisnisnya seperti apa, fundamentalnya bagaimana, dsb, maka investasi saham bukanlah untung-untungan, tapi kemungkinan besar akan untung. []

This entry was posted in Buku, Investasi and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s