KUA Pungli? Antara Harga Pasar dan Harga Resmi

Biaya NikahAkhir-akhir ini ramai diberitakan masalah pungli di KUA (Kantor Urusan Agama), terutama sejak Ninit menceritakan kisah pengaduannya ke walikota Yogyakarta tahun 2009. Seperti halnya Ninit, banyak masyarakat mengeluhkan besarnya biaya yang harus diberikan ke pihak KUA untuk mencatatkan pernikahan, bisa sampai 500 ribu hingga jutaan. Padahal menurut PP No 51 tahun 2000, biaya pencatatan nikah dan rujuk adalah 30 ribu.

Tapi membengkaknya biaya itu sebetulnya wajar jika melihat beberapa fakta ini:

  1. Tempat pernikahan umumnya dilaksanakan di rumah atau gedung, bukan di kantor KUA. Untuk ini dibutuhkan ongkos transportasi.
  2. Waktu pernikahan umumnya di hari libur, Sabtu atau Ahad.
  3. Penghulu (pegawai KUA) biasanya juga mendapat tugas tambahan selain tugas resminya sebagai pencatat nikah, antara lain berkhutbah, menjadi wali nikah menggantikan orangtua, dan memimpin doa.

Jadi, jika masyarakat ingin biaya nikah hanya 30 ribu, setidaknya harus memenuhi tiga hal ini:

  1. Tempat menikahnya di kantor KUA.
  2. Waktu pernikahan dilakukan di hari dan jam kerja.
  3. Petugas KUA hanya mencatatkan nikah, tidak ada tambahan lain.

Selain itu, jika acara dilaksanakan di kantor KUA, jangan pula ada tambahan acara selain akad nikah (seperti tangis-tangisan atau makan-makan pakai prasmanan), yang membuat acara berlangsung lama. Kalau acara kelamaan, sewa ruangan kantor boleh ditagihkan.

Di luar tiga hal tsb, saya kira wajar jika yang berlaku adalah harga pasar. Masyarakat yang hendak melangsungkan pernikahan seyogianya mencari tahu berapa lazimnya biaya untuk petugas KUA di daerah itu. Jika sudah memenuhi tiga syarat tsb tapi orang KUA masih meminta lebih, barulah itu pungli namanya dan haram hukumnya.

Tapi bagaimana pun saya setuju bahwa untuk acara di luar kantor KUA dan di luar jam kerja, jika petugas KUA memasang tarif, hal itu melanggar etika atau setidaknya kurang elok kedengarannya, sama seperti ustaz yang mematok tarif ceramah. []

This entry was posted in Agama, Sosial and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s