Cerpen: Ulang Tahun Kematian Ayah

KuburanPara tetangga telah berdatangan. Mereka duduk menyisir dinding, saling berbincang satu sama lain. Bapak kiai pun sudah bersila di sebelahku. Beliau datang beserta santri-santrinya dari kampung seberang. Sesaat lagi acara akan dimulai. Haul ayahku yang kesepuluh.

Sejak tadi hatiku berdebar tak karuan. Sebagai anak tertua, aku kebagian tugas membuka acara. Tapi yang membuat jantungku deg-degan adalah hal lain: ayahku akan hadir pada peringatan kematiannya kali ini. Begitulah yang ia katakan saat aku berziarah ke makamnya siang tadi.

”Ayah… akan datang di acara haul Ayah?” tanyaku seraya berusaha keras meredam kekagetan karena disapa oleh satu suara tanpa rupa.

Ayah terkekeh. ”Kenapa tidak? Ini acara ulang tahunku sendiri.”

”Ulang tahun?”

”Hehehe, ulang tahun kematianku yang kesepuluh.”

Ah, Ayah ada-ada saja. “Tapi… bagaimana mungkin?”

”Hahaha, seperti halnya isra mikraj Nabi Muhammad Saw., di sini kekuasaan ilahilah yang bekerja.”

Tentu tak ada yang mustahil kalau Tuhan sudah turun tangan. Maka aku bertanya, ”Baik-baikkah Ayah di sana?”

“Sebagaimana yang kamu dengar.”

Kedengarannya memang baik. Nada suara ayah sama sekali tidak mirip orang digebuki malaikat penjaga kubur.

Dulu ayahku seorang guru agama di Sekolah Dasar. Selain mengajar di sekolah, Ayah, bersama Ibu, juga memberikan tuntunan kepada masyarakat dalam hal agama. Sebagai guru, Ayah telah melahirkan banyak murid yang tersebar di mana-mana. Aku yakin, inilah salah satunya yang membuat Ayah baik-baik saja di alam baka. Aku ingat, Nabi pernah bersabda bahwa ada tiga hal yang membuat pahala terus mengalir meski orangnya sudah meninggal, yaitu sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak yang saleh. Beruntunglah orang mati yang mempunyai satu saja di antara tiga itu.

“Itu memang ikut berpengaruh,” ucap ayah. “Tapi kalau dibanding kebaikan Tuhan, semua itu ibarat satu titik dalam sebentang garis.”

Aku tersenyum. Bahagia rasanya mengetahui ayahku mendapat tempat yang layak di sisi Allah. Bahkan tampaknya kedudukannya cukup istimewa. Buktinya dia dikasih izin jalan-jalan ke dunia.

“Anakku, sampai ketemu nanti malam.”

Sampai ketemu…

Dan aku pulang dari kuburan dengan badan gemetaran. Sesampainya di rumah, lekas aku meringkuk di atas kasur sambil merintih, “Selimuti aku, selimuti aku, selimuti aku.”

Tapi istriku sedang di dapur, bersama ibu dan beberapa perempuan tengah menyiapkan makanan untuk acara haul. Terpaksa kugaet sendiri selimut di tepi ranjang dengan ujung kaki. Ditambah dua helai sarung dan mukena istri yang kucomot asal saja dari dekat situ, kubungkus tubuhku rapat-rapat dan kubenamkan mukaku ke bawah bantal.

Namun tubuhku terus menggigil tak tertahan. Keringat dingin merembes di sekujur badan. Sambil bergelisikan di kasur, batinku tak henti meracau. Apakah itu benar-benar Ayah? Ataukah itu cuma ulah iseng setan kuburan? Bagaimana kalau ayahku datang, apa orang-orang tidak akan lari melihat mayat bangkit kembali?

Waktu magrib, meski badan belum fit, kupaksakan pergi ke masjid. Aku harus menyampaikan pengumuman dan undangan kepada para jemaah bahwa sehabis isya nanti ada peringatan haul Ayah di rumahku.

Sepulang dari masjid, kulihat anak-anak dan para keponakan tengah menggelar tikar dan mengganti lampu depan dengan bolam yang dayanya lebih besar. Kusuruh anakku yang paling kecil mengambilkan selembar kertas dari buku sekolahnya. Di kertas itu, aku menuliskan nama almarhum Ayah dan nama-nama leluhur lain yang pantas dikirimi al-Fatihah. Untuk pegangan Pak Kiai saat memimpin doa.

Tanganku gemetaran. Kejadian tadi siang di kuburan terus menghantui pikiran. Tanpa sadar, kucatat peristiwa itu di sebalik lembaran, menghasilkan sebuah cerita setengah halaman yang ditutup dengan kalimat tanya: benarkah Ayah akan datang. Aku tak berharap itu kenyataan, tapi juga setengah berharap itu sungguhan.

Ternyata ayahku benar-benar datang. Persis saat aku hendak berdiri untuk membuka acara, dia muncul dari pintu kamar ibu, bekas kamarnya dahulu, lalu mengucap salam. Suaranya pelan, namun terdengar jernih oleh seluruh hadirin baik yang ada di dalam maupun di teras depan. Semua orang menoleh. Sontak otot-otot muka mereka mengeras, namun lekas melembut kembali dengan cara yang aneh. Aku dapat mencium hawa keheranan menguar dari wajah-wajah para hadirin, tapi mereka seolah tak kuasa untuk mengungkapkannya. Entah bagaimana cara Ayah membuat mereka tetap diam, seperti halnya aku, yang juga termangu di tempat dudukku.

Ayah bersila di sebelah kananku. Lalu dia berkata, “Dimulai saja, Nak.”

Aku berdiri. Tapi kebingungan menyergapku. Tiba-tiba saja kata-kata yang lazim diucapkan orang untuk membuka sebuah pertemuan menguap entah ke mana. Oh, bagaimana ini?

“Assalamualaikum…” Akhirnya terlontar juga ucapan itu setelah beberapa waktu berlalu dalam diam. Tapi setelah itu otakku kembali kosong. Susah payah kuraih ketenangan, tapi hanya beberapa kalimat yang sempat kukeluarkan, setelah itu tenggelam, membuatku harus bekerja keras untuk menyembulkannya lagi. Rasa-rasanya, walaupun akhirnya aku berhasil melimpahkan tugas bicara kepada bapak kiai, kata-kataku tersusun dengan terpatah-patah, tersendat-sendat, seperti gas motor kehilangan langsam.

Kemudian bapak kiai memimpin pembacaan tahlil, yasin, dan doa. Anehnya, kata-katanya lancar sekali seolah tak terjadi suatu apa. Ah, Ayah tak adil; kenapa tadi aku tidak dibantunya bicara.

Setelah doa selesai, sembari makanan diedarkan, orang-orang memusatkan perhatian pada Ayah. Wajah-wajah mereka menampakkan mimik ingin tahu. Orang-orang di beranda pun masuk dan mereka duduk berhimpitan.

Bagi mereka yang mengenal Ayah semasa hidupnya, segera terkesan bahwa roman muka Ayah tampak jauh lebih muda daripada keadaannya sebelum meninggal dunia. Dulu ia layak dianggap kakek-kakek, kini hanya seperti pria paruh baya. Bahkan karena mukanya bersih dan bersinar, dibandingkan denganku yang menginjak empat puluh, kami tampak seperti adik kakak, dengan aku di pihak yang lebih tua.

“Memang,” kata Ayah saat ada orang menanyakan hal ini, “di alam barzakh, setiap orang saleh akan semakin muda dari tahun ke tahun. Di sana, umur bukannya bertambah, malah berkurang.”

Wah, lama-lama bisa jadi bayi dong?

“Tapi ada batasnya,” lanjut Ayah menjawab keheranan orang-orang. “Dulu umurku 55 waktu aku meninggal. Sekarang 10 tahun sudah lalu, berarti umurku 45. Pengurangan umurku akan berhenti di kisaran 20-an tahun.”

Enak ya, muda terus.

“Begitulah,” Ayah melanjutkan. “Seperti kata Nabi Muhammad Saw., di surga tidak ada nenek-nenek dan tidak ada kakek-kakek. Sebab sejak di alam barzakh, umur manusia, tentunya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, sudah dikurangi perlahan-lahan.”

Orang-orang mengangguk-angguk. Lalu beberapa di antara mereka mengajukan pertanyaan kepada Ayah. Macam-macam pertanyaan mereka. Tapi jika ada yang bertanya tentang masa depan, rezeki, jodoh, dan hal-hal semacam itu, Ayah selalu menjawab, “Wallahu a’lam. Yang tahu hanya Allah.”

Tak terasa malam kian purna. Ayah melirik jam dinding. Orang-orang paham. Mereka pun bangkit, satu per satu menyalami Ayah, lalu pulang. Tak lupa dengan berkat di jinjingan.

Tapi rasa-rasanya ada sesuatu yang tertinggal.

“Ayah,” kataku, “bagaimana ini, mereka tentu akan saling bercerita kalau Ayah datang.”

“Jangan kuatir. Dengan seizin Allah, aku telah mengubah ingatan mereka.”

“Oh?” Aku teringat buku Harry Potter. Di situ ada sebuah mantra untuk memodifikasi ingatan. Apa bunyi mantranya aku lupa.

Obliviate,” tukas Ayah seperti menebak isi benakku. “Saat mereka menyalamiku, aku mengucapkan mantra itu,” jelasnya.

“Kok Ayah tahu Harry Potter?”

“Hehehe, di alam sana segalanya tersedia. Ketika serial Harry Potter tengah jadi favorit di dunia, kuminta malaikat penjaga kubur membawakan novel itu untuk kubaca.”

“Apa benar mereka akan lupa kejadian hari ini?”

“Tidak sepenuhnya. Mereka masih akan ingat bahwa malam ini mereka pergi ke rumah kita untuk selamatan dan tahlilan. Yang mereka lupa hanyalah bahwa ada aku di sini.”

Ayah memang harus merevisi memori mereka. Sebab kalau sampai tersiar kabar bahwa orang mati hidup kembali, orang-orang akan berdatangan ke kuburan Ayah, minta ini itu segala macam. Tentu Ayah akan kerepotan.

Tinggallah kami sekeluarga besar: aku dan saudara-saudaraku, anak-anakku dan keponakan-keponakanku, para paman dan bibiku, istriku dan para menantu, dan ibuku. Kami duduk merubung di depan Ayah. Ia menatap kami satu-satu, sampai matanya bertemu dengan sorot penuh rindu dari Ibu. Hingga bertahun-tahun setelah menjanda, ibuku kadang masih memimpikan Ayah. Aku tahu karena besoknya ia pasti bercerita dan mengajakku berziarah.

Ayah menyuruh Ibu duduk di sampingnya. Dengan pipi merona layaknya gadis muda, wanita yang sudah berpinak cucu itu beringsut ke samping Ayah. Ayah melingkarkan tangannya ke bahu Ibu, dan Ibu menyandarkan kepalanya di bahu Ayah.

“Seperti ibu dan anak,” celetuk seorang keponakan.

Kami semua tertawa. Kecuali Ibu. Ia merengut saja.

Ayah membelai kepala Ibu, mengecup pipinya, sehingga wajah itu berbinar lagi.

Setelah itu kami berbincang-bincang beberapa lama. Ayah menanyakan kabar kami satu per satu. Semuanya baik. Dan kami pun hanya bercerita yang baik-baik.

Ayah pun bercerita banyak tentang perjalanan hidupnya dan pengalamannya di alam kubur. Dulu aku takut mati, katanya. Jika sakit parah, yang kuminta kepada Allah pasti umur panjang dan kesehatan. Tapi setelah dialami, ternyata mati itu biasa saja. Asalkan selama hidup selalu patuh pada aturan Allah, kehidupan di alam kubur boleh dikata jauh dari penderitaan.

Hingga malam kian larut dan sepi mulai menyusup, kami masih saja bercakap-cakap. Kami semua rindu Ayah. Dia adalah panutan kami, kebanggaan kami sekeluarga.

Namun…

“Waktunya tidur,” ucap Ayah. Ia berdiri, meraih tangan Ibu, membimbingnya masuk ke kamar mereka dulu. Di pintu, ia tertegun sejenak, lalu berpaling dan menatap kami. “Ngomong-ngomong, ingatan kalian juga perlu diganti, hehehe.”

Aku kaget. Tapi tak sempat berbuat apa-apa ketika Ayah berseru, “Obliviate!”

***

Pagi harinya, ketika istriku tengah membereskan rumah, ia menemukan sehelai kertas di bawah tikar. Karena isinya mengherankan, ia menanyakannya padaku.

Begitulah. Secarik informasi di kertas itu lalu kurangkaibaurkan dengan imajinasi, dan jadilah kisah ini. []

Tangsel, 2011

This entry was posted in Cerpen and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Cerpen: Ulang Tahun Kematian Ayah

  1. fenia says:

    mantep daaah!

  2. didin says:

    taufik al hakim adalah novelis mesir yang karyanya juga sering nyerempet nyerempet rahasia tuhan, mirip kayak kang sofyan. selamat ya…tidak banyak orang yang berani mengambil aspek ini, padahal lapangan ini masih luas untuk dibahas. dalam istilah bisnis, di sektor ini belum banyak pemain, jadi jelas anda akan untung besar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s