Cincin Batu Akik Kalimaya Warisan Bapak

Batu akik kalimaya

Cincin kalimaya dengan ikatan asli dari Bapak sebelum diganti.

Ketika tahlilan malam pertama usai dan orang-orang telah berpulangan, datanglah seorang pria tua. Dia memarkirkan motornya di tepi jalan, lalu duduk di karpet besar yang masih terpasang menutup jalan depan rumah. Dari sakunya dia mengeluarkan sesuatu. Sebuah cincin batu akik. Aku segera teringat bahwa itu cincin yang selalu dipakai Bapak.

“Tadi siang, khawatir diambil orang, kucopot cincin ini dari tangan Pak Haji,” kata Mang Udin pria tua itu.

“Oo, terima kasih, Mang,” kataku.

Saat ditemukan meninggal dunia, di tangan Bapak terpasang jam tangan dan dua cincin batu akik. Jam tangan dan satu cincin sampai di rumah. Cincin yang satunya, yang diamankan oleh Mang Udin, sampai kepadaku malam ini. Batu akik jenis kalimaya. Sebetulnya jika Mang Udin tidak mengantarkannya pun, aku tak akan ingat soal ini.

***

Kakek menggendong Teguh Jiwa, anakku no 2, dan Iwan di warung ibuku.

Bapak menggendong Teguh Jiwa, anakku no 2, di depan warung ibuku

Sekitar pukul sebelas siang, Selasa tanggal 26 Agustus 2015, ibuku menelepon mengabarkan bahwa Haji Oman Abdurohman, suaminya atau ayah tiriku, meninggal dunia. Jasadnya ditemukan telah tergeletak di tengah kotakan sawah kering. Diduga Bapak kena serangan jantung, karena memang sudah setahun terakhir dia mengalami keluhan pada jantungnya.

Ibuku bercerita, pagi harinya Bapak masih mengantar ibu belanja sayur ke pasar. Lalu sekitar pukul delapan, Bapak pergi melayat ke tetangga yang malamnya meninggal dunia. Setelah itu Bapak pergi ke sawah tak jauh dari rumah tetangga tersebut. Meski usianya telah melewati 70 tahun, Bapak masih rajin menengok sawah yang letaknya sekitar 200 meter dari rumah. Di sawah itu, selain padi, ada beberapa kotak empang, pepohonan kayu, dan aneka palawija.

Sekitar pukul setengah sebelas, seseorang memberi tahu ibu bahwa Bapak telah meninggal dunia dan jasadnya telentang kaku di tengah sawah. Entah sudah berapa lama Bapak tergeletak tanpa nyawa. Di tangan kanannya tergenggam sebilah arit dan di tangan kirinya beberapa helai daun singkong. Posisi badannya terbaring. Kelihatannya ketika serangan terjadi, Bapak sempat duduk dan merebahkan dirinya. Matanya tertutup rapat. Menurut ibu, tak tampak sama sekali bekas kesakitan pada wajah Bapak.

Mendengar kabar ini, aku segera menyuruh istriku untuk bersiap-siap. “`Habis zuhur kita pulang,” kataku.

Aku sendiri masih harus membereskan urusan dengan tukang yang tengah mengerjakan bagian belakang rumah baruku di Pamulang. Kemungkinan aku akan berada di Pandeglang sampai tahlilan hari ketujuh. Jadi semua bahan yang harus dibeli, segera kubeli saat itu juga.

Kami, yaitu aku dan istriku dan dua anakku, berangkat pukul 2 lewat menggunakan motor sampai Kebon Nanas, disambung dengan bis jurusan Kalideres – Labuan. Sampai di Pandeglang pukul 5 lewat. Aku tak sempat melihat jasad Bapak. Sayang sekali.

Aku hanya bisa berziarah esok harinya ke makam Bapak, berdoa semoga semua doanya diampuni, amal ibadahnya diterima, dan jiwanya ditempatkan di tempat yang layak di surganya Allah Swt.

***

Cincin kalimaya dengan ikatan yang telah diganti.

Cincin kalimaya dengan ikatan yang telah diganti.

Adapun cincin batu akik kalimaya yang kini kupegang, aku akan memakainya sebagai kenang-kenangan terakhir dari Bapak. Aku tak pernah memakai batu akik sebelumnya dan tak mengerti pula perihal batu akik. Tapi batu kalimaya ini menurutku sangat indah. Warna-warninya berkilauan saat tertimpa cahaya. Ditinjau dari berbagai sudut, ada semburat warna merah, kuning, hijau, biru, dan ungu dalam dasar putih. Pantas saja seseorang merasa perlu mengamankannya dan tidak untuk cincin satunya yang juga menempel di jari Bapak, bahkan tidak untuk jam tangan.

Kata teman ini kalimaya australia, sebutan untuk jenis yang kualitasnya kurang dibanding kalimaya banten. Tapi aku tak mengerti itu. Yang pasti menurutku batu ini sangat indah. Dan juga bernilai sejarah.

Terima kasih, Bapak. Semoga sekarang engkau merasakan kedamaian di sisi Tuhan. Amin. []

This entry was posted in Keluarga and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s