Pengalaman Pertama ke Dokter Gigi

ke-dokter-gigi-3

Untuk pertama kali dalam hidup, kami sekeluarga pergi ke dokter gigi. Awal mulanya, anak kami yang kedua, Teguh Jiwa (3 tahun), bermain tarik-tarikan dan dorong-dorongan dengan kakaknya, Cahaya Senja (5 tahun), tapi terlalu keras sehingga dia terjatuh dan mukanya terjerembab ke lantai rumah. Alhasil, gigi depannya yang tinggal satu patah.

Tadinya kami kira hanya itu saja akibatnya, selain rasa sakit. Tapi besoknya, di bekas patahan gigi Teguh tumbuh sesuatu yang lunak, yang terasa sakit jika tersentuh sesuatu, sehingga karena itu Teguh jadi tak enak makan. Kasihan.

Lusanya kami bawa Teguh ke Puskesmas Pondok Benda, tempat biasa kami berobat jalan pakai fasilitas JKN-BPJS. Kata dokter gigi di sana, yang tumbuh di bekas patahan gigi itu namanya vulva. Harus dipotong dan ditambal, kalau tidak akan terus membesar. Tapi fasilitas yang tersedia di rumah sakit rujukan BPJS (RSUD Tangsel) tidak memungkinkan untuk menangani masalah itu. Masalah gigi pada anak, khususnya yang memerlukan tindakan yang bisa menimbulkan rasa sakit, harus ditangani oleh dokter gigi khusus anak atau pedodontis dan dilengkapi fasilitas yang mendukung.

Kami pun mencari klinik gigi khusus anak, dan ketemulah Kidz Dental Care di Ruko Golden Madrid 1 Blok B-18 BSD. Kami bawa Teguh Jiwa ke sana pada hari Sabtu 5 November 2016, pukul 11 siang. Kliniknya sangat nyaman, dinding ruangannya dihiasi gambar dan ornamen warna-warni, serta dilengkapi mainan untuk anak-anak.

Setelah mengisi form pendaftaran, Teguh diminta untuk memilih kaset DVD yang akan diputar selama pengobatan berlangsung. Dia pilih film Boboiboy.

Dokter yang menangani namanya drg. Sella Setiadharma, Sp.KGA. Lulusan Trisakti tahun 2003 dan UI tahun 2011. Berpengalaman 13 tahun sebagai dokter gigi anak.

ke-dokter-gigi-2

Teguh bersama drg. Sella. Terima kasih dok 

Saya pangku Teguh di kursi operasi dalam posisi berbaring. Di atas ada layar di mana kartun Boboiboy diputar, namun selama sekitar setengah jam, Teguh tak sempat bisa menikmati tayangan tsb. Kepalanya dipegang erat oleh suster, kakinya pun dipegangi oleh suster yang lain lagi, dan tubuh serta kedua tangannya saya peluk erat. Dokter bekerja sambil terus berbicara menghibur pasien kecilnya. “Sebentar lagi ya de…, sedikit lagi…, hampir selesai…,” begitu terus diulang-ulang.

 

Teguh menjalani tindakan yang disebut, seperti tertulis di kuitansi:

  1. PSA Anterior Single Visit Gigi (Belum Restorasi) (Pedo). Biaya Rp. 1.150.000
  2. GIC Kecil (Pedo). Biaya Rp. 450.000

Total biaya 1,6 juta, tapi ada diskon untuk kedatangan pertama, sehingga yang kami bayar adalah Rp. 1.035.000. Lumayan.

Sepulang dari klinik gigi, untuk menghibur Teguh Jiwa yang telah baik sekali mau bekerja sama dengan kami dan dokter selama di ruang operasi, kami mampir di toko mainan Popplay di ruko Barcelona, bersebelahan dengan ruko Golden Madrid 1. Teguh membeli mobil-mobilan dengan remote dan kakaknya pun ikut beli mainan sebuah alat dandan untuk anak perempuan.

Setelah itu kami mampir makan siang di RM Padang, dan alhamdulillah Teguh langsung bisa makan dengan lahap.

Itulah pengalaman pertama ke dokter gigi untuk Teguh.

Kidz Dental Care & Orthodontic Clinic juga melayani pasien dewasa. Kebetulan sampai akhir Januari 2017, di klinik ini ada promo konsultasi gratis untuk dewasa dan diskon 10% tindakan. Kami memanfaatkan promo ini untuk membuat janji temu. Maka pada hari Selasa, 8 November 2016, pukul 13.30, kami pun datang kembali ke klinik ini.

Bagi kami, saya dan istri, ini pun menjadi pengalaman pertama diperiksa oleh dokter gigi. Dokter yang menangani kami bernama drg. Delly, lulusan Trisakti tahun 2011.

Saya punya satu gigi geraham yang bolong sejak lebih dari 10 tahun lalu, tapi saya biarkan saja karena tak pernah sampai menimbulkan sakit gigi. Tindakan yang saya ambil adalah pembersihan karang gigi (scaling) dan cabut gigi. Untuk scaling (kelas 3), biayanya 525 ribu dan cabut gigi 475 ribu, total 1 juta, diskon 10% jadi 900 ribu.

Istri saya pun melakukan pembersihan karang gigi (scaling kelas 2), biayanya 475 ribu, diskon 10% jadi 427.500. Total biaya kami berdua setelah dipotong diskon adalah 1.327.500.

ke-dokter-gigi-1

Berfoto di ruang pemeriksaan gigi sehabis perawatan. Foto ini saya unggah ke instagram sbg syarat mendapatkan promo diskon 10%.

Tinggal Cahaya yang belum diperiksa. Karena urusan gigi ini lumayan menguras kantong, kami baru merencanakannya bulan depan jika sudah gajian lagi. Tapi ternyata kesempatan itu datang lebih cepat. Beberapa hari kemudian, dia mengeluh gigi geraham belakangnya sakit. Di situ memang sudah ada lubang, tapi kami masih menahan untuk tidak ke dokter gigi dengan menyuruh dia minum air garam.

Ketika sakit giginya terus berulang, akhirnya kami membawanya kembali ke klinik Kidz Dental Care. Kali ini dokter giginya bernama Drg. Yuri Desi Pratamasari, Sp.KGA.

Cahaya menjalani tindakan yang disebut (sesuai yang tertera di kuitansi):

  1. PSA Posterior Single Visit (Belum Restorasi) (Pedo). Biaya Rp. 1.200.000
  2. GIC Besar (Pedo). Biaya Rp. 550.000

Total biaya 1,75 juta, kali ini tidak ada diskon sama sekali.

Masih ada beberapa PR pada gigi Cahaya. Biarlah nanti tunggu dapat rezeki lagi.

Sepulang dari klinik, seperti sebelumnya anak-anak minta mampir ke toko mainan yang jaraknya tidak jauh dari klinik. Cahaya beli mainan dokter-dokteran dan Teguh beli mobil-mobilan polisi.

Untuk selanjutnya, kemungkinan besar biaya perawatan gigi akan selalu ditambah dengan biaya untuk beli mainan. Tapi tak apalah, semoga rezeki kami selalu ada.

Jadi dalam seminggu terakhir ini sudah ada tiga dokter gigi yang menangani kami sekeluarga, dengan total biaya 4,1 jutaan. Lumayan sekali. Bisa buat beli laptop baru atau ganti kulkas.

Selanjutnya, setelah semua masalah gigi kami (saya, istri, dan anak-anak) beres, kami tinggal menjalani pemeriksaan rutin ke dokter gigi setiap semester atau satu tahun sekali. Ini akan menjadi gaya hidup baru bagi kami.

Terakhir, meski biaya rawat gigi ini lumayan menguras kantong, saya tidak berpikir untuk membeli asuransi rawat gigi. Mengapa?

  1. Tidak ada asuransi untuk gigi yang sudah berlubang, seperti halnya tidak ada asuransi kesehatan untuk sakit yang sudah diderita dan tidak ada asuransi jiwa untuk orang yang sudah meninggal dunia.
  2. Sebesar-besarnya biaya perawatan gigi, biayanya masih bisa diukur. Mungkin beberapa juta saja, dan bisa dicicil sesuai anggaran yang tersedia. Yang pasti biaya rawat gigi tidak akan sampai puluhan atau ratusan juta, apalagi miliaran seperti penyakit kanker dan stroke. Jadi, untuk perawatan gigi saya lebih pilih menyiapkan dana darurat.
  3. Produk asuransi untuk rawat gigi jarang sekali tersedia di pasaran. Di perusahaan asuransi tempat saya bekerja pun (Allianz Life Indonesia), asuransi rawat gigi masuk sebagai rider (manfaat tambahan) di asuransi kesehatan rawat inap, dan untuk ambil rider rawat gigi harus ambil rawat jalan. Jadi preminya akan mahal sekali, setara dengan biaya yang ditagihkan klinik gigi. Sekali lagi, dana darurat lebih cocok untuk antisipasi biaya perawatan gigi.
  4. Jika pun harus pakai asuransi, ada JKN dari BPJS yang sebetulnya bisa dipakai untuk perawatan gigi.

Terakhir, kami berdoa semoga gigi kami selalu sehat, fisik kami selalu kuat, dan rezeki kami selalu dicukupkan. Doa yang sama untuk anda semua, para pembaca sekalian. Amin. []

This entry was posted in Keluarga, Kesehatan, Serba-serbi and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s