Cerpen: Desi Susan Mencari Tuhan

Pada suatu siang, Desi Susan mendengar Tuhan berkata kepadanya dengan nada penuh rintihan.

“Wahai Desi Susan, Aku sakit. Mengapa engkau tidak menjenguk-Ku?”

Desi Susan terkejut. Tak salah lagi, itu memang Tuhan. Suara-Nya, Desi Susan masih ingat, itulah suara yang dulu, menjelang ia dilahirkan ke dunia, pernah bertanya kepadanya, “Bukankah Aku Tuhanmu?” Dan Desi Susan juga masih ingat jawab yang ia berikan, “Benar, aku bersaksi bahwa Engkau Tuhanku.”

Keyakinan ini membuatnya sangat bahagia. Sudah lama ia merindukan Tuhan, dan kini kerinduannya berbalas. Tetapi ia terheran-heran karena Tuhan mengaku diri-Nya sakit.

“Tuhanku, Engkau Mahakuasa dan Mahaperkasa. Bagaimana mungkin Engkau sakit, dan bagaimana aku menjenguk-Mu?”

Tuhan menjawab, “Hamba-Ku yang bernama Sefyan, dia sakit. Jenguklah dia, maka kau akan menemukan-Ku di sana.”

Desi Susan tercengang. Nama itu adalah nama seorang pemuda yang dulu pernah menyatakan cinta kepadanya. Namun waktu itu ia menolak karena cintanya hanyalah untuk Tuhan.

Desi Susan tak mengerti kenapa Tuhan menyuruhnya menjenguk Sefyan. Tapi teringat bahwa di sana ia akan bertemu Tuhan, ia pun berangkat.  Sesampainya di rumah Sefyan, Desi Susan disambut dengan tatapan dalam penuh kerinduan.

“Akhirnya engkau datang juga, wahai Desi Susan. Aku telah menunggumu sekian lama.”

Desi Susan tak hiraukan sambutan Sefyan. Malah ia bertanya, “Mana Tuhan?”

”Tuhan?” Sefyan mengernyit.

“Ya. Aku mendapat petunjuk dari Tuhan untuk menjengukmu yang sedang sakit, dan aku akan berjumpa Dia di sini. Tapi kau tak tampak sakit, dan aku pun tidak melihat Tuhan.”

Sefyan berpikir sejenak. “Wahai Desi Susan, jika Tuhan bicara kepadamu, cobalah untuk tidak memaknainya secara harfiah.”

“Maksudmu?”

“Yang disuruh jenguk adalah hatiku, dan yang harus menjenguk adalah hatimu. Tahukah engkau, Desi Susan, sejak tiga tahun lalu ketika kau menolak cintaku, tiap hari aku berdoa kepada Tuhan agar membawamu ke hadapanku. Dan sepertinya doaku dikabulkan sekarang.”

Desi Susan termenung. “Jika aku menerima cintamu, apakah aku akan berjumpa dengan Tuhan?”

“Ya, tapi ini pun jangan dipahami secara harfiah pula.”

“Baiklah,” kata Desi Susan, “kalau begitu aku menerima cintamu karena Allah.”

“Oh, terima kasih, Desi Susan. Dan apakah engkau pun bersedia menjadi istriku?”

“Aku bersedia menjadi istrimu karena Allah.”

Maka demikianlah, Desi Susan pun menikah dengan Sefyan.

Dengan menjadi istri Sefyan, Desi Susan berpikir bahwa ia telah melaksanakan perintah Tuhan. Dengan tinggal serumah, sekamar, bahkan satu selimut dengan Sefyan, Desi Susan berharap bahwa ia dapat menjumpai Tuhan. Jika Tuhan sampai secara khusus menyuruhnya menjenguk Sefyan, tentu pria yang kini menjadi suaminya itu mempunyai kedudukan khusus di mata Tuhan. Maka Desi Susan pun melayani suaminya seakan-akan melayani Tuhan. Setiap perintah dan larangan suaminya ia anggap pula perintah dan larangan Tuhan.

Namun setelah beberapa lama hidup sebagai istri Sefyan, apa yang diharapkannya tidak kunjung menjadi kenyataan. Sefyan memang sangat baik sebagai suami, bertanggung jawab, dan penuh perhatian. Tapi Desi Susan hanya ingin berjumpa Tuhan.

Maka mulailah ia dilanda keraguan. Jangan-jangan dulu ia salah menafsirkan perkataan Tuhan. Jangan-jangan yang dimaksud menjenguk Sefyan bukanlah menikah dengan Sefyan. Mungkin ada arti lain. Tetapi apa arti lain itu, ia tidak paham.

Karena sering memikirkan hal itu, Desi Susan menjadi tidak bahagia, meski kalau dilihat dari luar, kehidupan rumah tangganya dengan Sefyan baik-baik saja.

Begitu pun Sefyan. Awalnya ia sangat bahagia bisa mempersunting Desi Susan, gadis yang telah dicintainya sejak bertahun-tahun silam. Meski Desi Susan pernah menolak cintanya, rasa itu tetap menyala-nyala di hatinya. Lalu ia berdoa kepada Tuhan agar Desi Susan mau menerimanya.

Maka ketika sang kekasih telah sah menjadi istrinya, Sefyan pun berusaha menampilkan dirinya sebagai suami yang ideal. Tak sekalipun ia menyakiti istrinya. Ia selalu berusaha agar istrinya bahagia, karena kebahagiaan istrinya akan menjadi kebahagiaannya pula.

Tapi akhir-akhir ini, Sefyan merasakan sesuatu yang aneh dan tidak mengenakkan, yang mengurangi rasa bahagianya.

“Istriku, apakah engkau bahagia hidup bersamaku?” tanyanya satu ketika. Sefyan bertekad untuk menjernihkan masalah yang mengganggu hatinya, yang juga ia duga tengah merayapi hati istrinya, dengan cara berterus terang.

Desi Susan kaget mendengar pertanyaan itu. Ia sendiri pernah menanyakan hal yang sama kepada dirinya, dan ia enggan mengakui jawabannya.

“Suamiku, mengapa kau bertanya seperti itu?” Desi Susan malah balik bertanya.

Sefyan pun bertanya lagi. “Istriku, kau menyesal menikah denganku?”

“Suamiku, mengapa pertanyaanmu aneh sekali?”

“Istriku, aku hanya ingin kita bicara terbuka. Kalau ada yang salah, mari kita perbaiki bersama-sama.”

“Apanya yang salah?”

“Kalau tidak ada yang salah, mengapa tampaknya engkau tidak bahagia?”

“Apakah aku terlihat tidak bahagia?” Suara Desi Susan menaik. Tampaknya sesuatu pada kalimat Sefyan telah memantik api kekecewaan di lubuk hatinya.

“Kau lebih tahu.”

“Justru kaulah yang tampaknya tidak bahagia!” Suara Desi Susan terdengar tegas. Ia memutuskan, toh Sefyan bukan Tuhan, jadi tak ada salahnya kalau bicaranya agak lebih dikeraskan.

Sefyan tercengang. Meskipun demikian, di dalam hatinya ia senang karena istrinya mulai berterus-terang. “Aku terlihat tidak bahagia? Jika benar begitu, itu pasti karena aku melihatmu tidak bahagia.”

Hening sejenak.

“Aku memang tidak bahagia!” tegas Desi Susan.

Tandasnya kalimat ini membuat Sefyan bungkam. Ia memang menginginkan jawaban yang jujur. Tapi kebenaran ternyata tidak selalu menyenangkan.

Desi Susan sendiri serasa mendapat pelepasan dengan pernyataan itu. Seolah sudah terlanjur, ia pun bermaksud mengungkapkan semua yang ia rasakan.

“Apakah kau ingin membuatku bahagia?” tanyanya.

Sefyan mengangguk.

“Baiklah,’ ucap Desi Susan. “Dengarkan ini: aku ingin berjumpa Tuhan! Dulu aku menjengukmu yang tengah sakit, bersedia menerima cintamu dan menikah denganmu, itu kulakukan karena aku ingin bertemu Tuhan.”

Sefyan mendesah. Hal ini sudah diduganya, tapi baru kali ini terartikulasikan lewat kata-kata istrinya.

“Maafkan aku, istriku.” Suara Sefyan terdengar melemah, menyiratkan nada menyerah. “Sepertinya aku telah gagal menjadi suamimu.”

Desi Susan diam saja.

“Istriku, aku ingin bertanya sesuatu yang amat penting padamu. Bolehkah?”

Bahkan untuk bertanya pun kini Sefyan merasa perlu meminta izin. Desi Susan tak enak hati jadinya. Mungkin karena tadi pertanyaan suaminya selalu ia balikkan.

“Aih, maafkan aku juga, suamiku. Yang tidak penting pun boleh kau tanyakan, apalagi yang penting. Katakanlah.”

“Istriku…” Sefyan tampak meragu. “Apakah kau… mencintaiku?”

Desi Susan melohok. Bagaimana tidak, suaminya bertanya dengan nada gugup seakan-akan seorang pemuda yang hendak nembak tapi takut ditolak.

“Tentu saja aku mencintaimu.” Desi Susan menjawab juga pertanyaan itu.

Berbinar kedua mata Sefyan.

“Benar kau mencintaiku?”

Seharusnya Sefyan tidak mengulangi pertanyaan ini. Sekali sang kekasih berkata, seharusnya ia segera percaya.

“Aku mencintaimu demi Tuhan yang membolak-balikkan hatiku,” kata Desi Susan.

Begitulah. Tiba-tiba mata Sefyan melayu.

“Ah, rupanya itu masalahnya. Kau mencintaiku demi Tuhan.”

“Apanya yang salah? Sebagai hamba Tuhan, semua yang kita lakukan memang haruslah demi dan karena Tuhan.”

“Justru itu. Artinya sebenarnya engkau tidak mencintaiku. Engkau menerima cintaku bukan demi aku, tapi demi yang lain.”

“Masya Allah! Istigfar, suamiku. Masa Tuhan kau cemburui?”

Sefyan telah mulai memahami persoalannya. Tetapi agar tidak terjadi percekcokan, ia mengucap istigfar, lalu merangkul istrinya dan istrinya pun merangkulnya dan begitulah seterusnya. Ketika mereka berhubungan layaknya suami istri, Sefyan merasa memang tak ada yang salah dengan keadaan mereka. Ia merasa puas, dan ia yakin istrinya pun puas.

Tetapi ia tahu ada masalah yang tersembunyi di balik kemesraan itu. Dan baru saja masalah itu terbuka: istrinya tidak mencintainya. Istrinya hanya mencintai Tuhan.

Sefyan jadi sedih. Meskipun demikian, di depan istrinya ia mencoba tetap bersikap wajar seolah tak terjadi suatu apa. Hanya saja ia jadi sering pergi menyendiri untuk mengadukan persoalannya kepada Tuhan.

“Ya Allah, aku cemburu pada-Mu. Ternyata aku belum juga mendapatkan cintanya. Ia hanya mencintai-Mu.”

Setelah berkali-kali mengadu, akhirnya doa Sefyan mendapat jawaban. Pada suatu hari Tuhan menjumpainya dan bertanya, “Kau cemburu pada-Ku?”

Sefyan tergagap. “Apa tidak boleh?”

“Hahaha…, tahukah kau, hamba-Ku, sesungguhnya Aku pun cemburu kepadanya. Aku mencintaimu, tetapi hatimu lebih berat kepadanya.”

Sefyan melengak.

“Engkau pun cemburu?”

“Kenapa? Apa tidak boleh Tuhan cemburu?”

“Soalnya sifat itu tidak ada di asmaul husna.”

“Hahaha…, orang yang merumuskan sifat-sifat itu terlalu sungkan pada-Ku.”

“Oh, begitu rupanya. Kalau begitu, maafkan aku, ya Allah. Hamba-Mu ini memang salah, telah banyak mengabaikan-Mu. Tapi hamba sungguh sangat mengharapkan cintanya.”

“Hahaha…, baiklah. Aku akan membuat dia mencintaimu. Tapi apa balasanmu untuk-Ku?”

“Terima kasih, Tuhanku. Jika Engkau dapat membuat istriku mencintaiku, aku akan mencintai-Mu dengan sepenuh hatiku.”

Tuhan tertawa. “Perjanjian yang adil,” ucap-Nya.

Sefyan pun tertawa.

Sementara itu Desi Susan kembali dibuat terkejut sekaligus gembira saat didengarnya Tuhan berkata. “Wahai Desi Susan, Aku cemburu. Mengapa engkau tidak menghibur-Ku?”

Tapi suara-Nya yang terdengar memelas membuat Desi Susan keheranan.

“Tuhanku, Engkau Mahaindah dan Mahagagah. Bagaimana mungkin Engkau cemburu, dan bagaimana aku menghibur-Mu?”

“Hamba-Ku yang bernama Sefyan, dia cemburu. Hiburlah dia, maka cemburu-Ku akan reda.”

Mendengar ini, seketika sadarlah Desi Susan. Ia paham apa yang membuat suaminya tidak bahagia, dan mungkin pula apa yang membuat dirinya sendiri tidak bahagia. Kedatangan Tuhan telah memberinya pengertian mendalam akan hakikat kenyataan. Maka lekaslah ia mendapati suaminya. Diraihnya tangan suaminya dan diciumnya tangan itu.

“Wahai, suamiku, maafkan istrimu ini. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu sebagai perempuan mencintai lelaki, sebagai istri mencintai suami. Aku mencintaimu karena cintamu yang begitu besar dan tulus kepadaku, karena engkau memang pantas dan seharusnya kucintai.”

Sefyan terperangah. Direngkuhnya kepala Desi Susan dan dibenamkannya ke dadanya.

“Oh, istriku, terima kasih. Akhirnya kudapatkan cintamu.”

Kebahagiaan pun memancar dari wajah Sefyan. Desi Susan terpesona. Ia seolah-olah melihat Tuhan pada diri suaminya. Maka demikianlah, ketika keduanya melakukan persetubuhan, Desi Susan merasa bahwa ia tengah bersetubuh dengan Tuhan. Suaminya bagaikan telah berubah menjadi sosok Yang Mahaperkasa, Yang Mahakuat, Yang Mahajantan.

Mengertilah Desi Susan akan satu hal: mencintai Tuhan hanya mungkin jika ia mencintai manusia. Maka bahagialah ia. Telah ia temukan apa yang dicarinya. []

 

Ciputat, 2011

Advertisements
This entry was posted in Cerpen and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s