Sepeda Ontel, Kesan Sastra, dan Lagu-lagu Cinta yang Teduh

CD album Himne CintaUlasan tentang album Himne Cinta berikut ini ditulis oleh sahabat sekaligus rekan bisnis saya di Allianz, Dede Sulaeman, di blog pribadinya desulanakata.wp.com. Pakde (begitu saya memanggilnya) memiliki beberapa minat yang mirip dengan saya, yaitu dunia sastra dan tulis-menulis. Kami pernah bekerja bersama sebagai reporter majalah internal di sebuah kementerian. Ketika saya menjadi agen asuransi pada akhir 2011, Pakde menjadi nasabah saya yang pertama.

Membaca ulasannya, yang lebih banyak tentang diri saya, cukup menyenangkan mendapati bagaimana orang-orang memandang kita di masa lalu dan membandingkannya dengan kondisi saat ini, khususnya jika saat ini telah lebih baik.

Selamat membaca. []

 

Oleh: Dede Sulaeman

Awal mula perjumpaan saya dengan sosok unik ini, sekira tahun 2006, empat tahun setelah saya kuliah di Ciputat. Anda jangan mengira saya berjumpa dan berkenalan dengannya. Bahkan saya hanya melihat dari kejauhan dan mengenal dirinya dari cerita beberapa teman aktivis di organisasi tempat saya bernaung, di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Ciputat. Beberapa teman saya mengatakan, “Orang yang menunggangi sepeda ontel itu petinggi HMI, namanya Asep Sopyan.”

Sejak itu, kalau secara kebetulan menjumpainya berkeliaran di sekitar kampus dengan ontelnya, saya sering mengamatinya. “Pria unik,” pikir saya. Betapa tidak. Ia seorang petinggi HMI Ciputat – tempat cendikiawan muslim Indonesia dahulu, Nurcholish Madjid, memulai petualangan intelektualnya – tapi bergaya sangat klasik, untuk tidak menyebut jadul: sepeda ontel, tas selempang dari kain belacu, dan buku catatan kusam.

Tampaknya, saya menyukai sikap dan gayanya. Dahulu, kami, saya dan beberapa teman memaksakan diri menulis artikel mengenai isu-isu sosial, politik, dan ekonomi untuk dikirimkan ke media massa, tujuannya hanya satu: kami butuh uang honornya untuk makan di warteg. Beberapa artikel saya dan beberapa teman pun akhirnya dimuat di koran cetak nasional. Sejak itu semangat untuk terus menulis dan membaca semakin menggebu, seiring dengan tuntutan hajat kami untuk setiap hari mengunjungi warteg. Lumayan, honor menulis di koran dapat mencukupi kebutuhan makan.

Secara tak sengaja, saya jadi meminati isu-isu sosial dan politik. Di kalangan kami waktu itu, seorang penulis artikel di koran sangat dihargai, karena ia disebut sebagai calon intelektual. Teman-teman saya terus melanjutkan tradisi menulis itu. Beberapa di antaranya memang ada yang berhasil menjadi intelektual sungguhan, ada pula yang kemudian bekerja sebagai editor yang andal di penerbitan.

Tapi saya tak melanjutkan tradisi menulis artikel berbau isu-isu sosial dan politik. Sebabnya saya terpengaruh oleh seseorang yang unik, Asep Sopyan. Akhirnya, saya benar-benar berjumpa langsung dan berkenalan dengannya di Forum Lingkar Pena Ciputat, meskipun hanya sekadar kenal. Tapi tampang uniknya membuat saya menginterpretasikan dirinya sebagai orang yang terkesan sastra. Meskipun ia bukan seorang sastrawan, tapi kesan sastranya membuat saya tertarik dengan sastra.

Saya pun mulai menyukai cerita-cerita pendek yang dimuat tiap hari Minggu di media cetak nasional. Saya rasa, akan sangat keren kalau saya bisa menulis cerita pendek dan dimuat di media cetak nasional. Itu akan menjadi awal saya untuk sukses menjadi seorang sastrawan atau penulis cerita yang mahir.

Tapi, menulis cerita yang bagus ternyata tidak mudah. Buktinya, setelah berbulan-bulan saya bekerja, hasilnya nihil. Beberapa cerpen yang saya kirim ke media cetak, tidak ada yang berhasil dimuat, sementara saya harus terus mendatangi warteg. Akhirnya saya menyimpulkan, “Bakat saya bukan di situ. Mungkin saya hanya terkesan dengan seseorang yang terkesan seperti sastrawan. Dia pun sesungguhnya bukan sastrawan.” Kesimpulan ini diperkuat dengan fakta, bahwa kabar Asep Sopyan yang akan menerbitkan sebuah novel, tak juga kunjung terbit novelnya.

Adalah Jakarta School yang mengenalkan saya dengan sosok sastrawan sungguhan. Saya kemudian mengikuti kursus kepenulisan Jakarta School dengan bimbingan langsung sastrawan dari Semarang, AS Laksana. Setelah pertemuan pertama bersama sastrawan itu, saya menyimpulkan dirinya, “Caranya menyampaikan materi sastra di kelas tak mencerminkan sastra. Tapi caranya menulis cerita, itulah sesungguhnya sastra.”

Sejak itu saya mulai menyukai sastra, khususnya cerita pendek dan novel dan saya mulai menulis cerita pendek kembali dan akhirnya beberapa cerpen karangan saya dimuat di koran nasional. Dua orang yang paling saya ingat jasanya dalam konteks ini: Asep Sopyan, orang yang terkesan sastra dan AS Laksana, peraih penghargaan Koran Tempo kategori sastra koran.

Rupanya takdir kembali mempertemukan saya dengan sosok yang terkesan sastra itu. Kali ini ia datang dengan kesan yang lain. Di ujung tahun 2011, ia mendeklarasikan diri sebagai agen dan penjual asuransi. Awalnya saya heran, karena menurut saya dia sedang menghayal. Setahu saya, penjual asuransi itu bertampang perlente. Walaupun waktu itu pakaiannya sudah sedikit lebih rapi, tapi tetap saja saya tidak yakin. Tapi, dengan tegas ia berkata kepada saya, “Keuangan keluarga Anda akan selamat, kalau Anda mau mencicil premi asuransi.” Dan, saya akhirnya menjadi nasabah pertamanya.

Ia pun bercerita, kalau dirinya sedang membangun blog (myallisya.com) yang berisi kupasan-kupasan sisik-melik asuransi dan ia akan membuat orang-orang terpikat kepada asuransi dengan tulisan-tulisannya. Betul. Setelah dua tahun, ia meraih sukses dan menjadi agen yang mendapatkan beberapa penghargaan dan komisi bulanan yang cukup banyak, saya rasa lebih banyak dari gaji direktur di tempat saya bekerja.

Dan, dia pun datang lagi dengan kesan yang lain lagi. Ia kini menegaskan dirinya sebagai seorang penyanyi solo. Ketika proses rekaman dia memperdengarkan dua lagu kepada saya melalui media Whatsapp. “Luar biasa. Anda sudah melampaui basic-need,” kata saya. Dan, saya tak ragu, Asep Sopyan, teman dan leader saya di Allianz Star Network (ASN) ini akan memikat dengan lagu-lagunya.

Dari 11 lagu yang diluncurkan, saya cukup terkesan dengan lagu Adinda, Di Antara Bunga-bunga, Di Pasir Putih, Haruskah Kumenanti, Membayangi Bulan, dan Seuntai Nada.

Saya merasa, itu lagu-lagu cinta yang teduh, seteduh senja yang selalu disukai pengarang lagu-lagu ini. Selamat, Asep Sopyan! Semoga sukses. Saya masih menunggu lagu-lagu teduh dari Anda dan saya juga masih menunggu novel yang kabarnya akan Anda terbitkan.

Jika ingin mendapat kesan positif dari lagu-lagu Asep Sopyan, Anda bisa mengunduh atau sekadar mendengarkan lagu-lagunya di soundcloud.com, dan Anda juga bisa membaca lirik-liriknya yang puitis di lirik lengkap himne cinta, juga beberapa video klipnya di klip himne cinta.

Cikarang, di tengah terik, 14 September 2017

 

Advertisements
This entry was posted in Lagu and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s