Cerpen: Desi dan 72 Bidadari

Pantai, Wanita, Laut, Ayunan Biru

Pixabay

Sesampainya di surga, Asep dan Desi tinggal di sebuah rumah yang dalam segala hal: kebesaran, keindahan, kemewahan, kenyamanan, keamanan, tak akan pernah terbayangkan di dunia. (Jadi lebih baik tidak digambarkan di sini). Sebagai laki-laki, Asep mendapat jatah khusus berupa 72 bidadari dengan kecantikan tak terperi. Ketujuh puluh dua bidadari itu menghuni paviliun-paviliun di belakang rumah Asep dan Desi, dan kapan saja siap dikunjungi.

Tapi Asep tak pernah sekali pun menengok mereka. Setiap saat ia berduaan saja dengan Desi. Hanya Desi seorang yang ia rayu dan cumbu. Tentu saja Desi senang sekali.

Suatu kali Desi berkata, “Suamiku, di sini banyak bidadari bermata jeli dan berbodi seksi. Aku tak keberatan jika kamu mencobai salah satu dari mereka atau bahkan semuanya.”

“Ah, Istriku, apalah artinya mereka dibanding dirimu? Hakikatnya bidadari-bidadari itu tak lebih dari pelacur….”

Desi lekas melintangkan jarinya di mulut Asep. “Ssstt, hati-hati bicaramu, Sayang. Nanti Tuhan tersinggung.”

“Hehehe, jangan kuatir. Di surga tidak ada yang mencatat amal-amal kita dan tidak akan ada lagi pengadilan.”

“Tapi mereka istri-istrimu, hadiah Tuhan untukmu sebagai penghuni surga.”

“Lebih tepatnya: istri simpanan, atau gundik, atau selir, atau harem. Kamu tahu, istriku, di dunia dulu, harem-harem itu sering menjadi barang hadiah di antara para raja dan bangsawan. Mengapa? Karena mereka hakikatnya tak lebih dari budak. Bedanya mereka cantik. Dan khusus bidadari, tinggalnya di surga. Tapi itu tak mengubah fakta bahwa mereka diciptakan hanya dengan satu tujuan: untuk menjadi pemuas nafsu seks laki-laki. Andaikata mereka kusuruh mencuci kakimu saja, itu sudah merupakan satu kehormatan besar bagi mereka.”

Desi terkikik. “Sayangnya di surga sini kakiku tak pernah kotor.”

***

Mulanya tiap-tiap bidadari itu menduga, mungkin Asep masih keasyikan dengan salah satu bidadari hingga lupa bahwa masih banyak bidadari yang lain. Namun setelah bertahun-tahun tak pernah dikunjungi, mereka pun mulai berkomunikasi dengan sesamanya, dan tahulah mereka bahwa nasib mereka semua serupa.

Mereka jadi bertanya-tanya dalam hati mengapa bisa begitu. Untuk mencari tahu sekaligus menepis kebosanan, sesekali satu atau dua dari mereka keluar dari kamarnya dan berjalan-jalan di taman. Terkadang mereka lihat Asep dan Desi tengah bercumbu di beranda rumah atau di salah satu sudut taman, namun mereka tak berani mendekat sebab tak diperbolehkan bagi mereka untuk mengganggu saat tuan dan nyonya besar sedang berduaan.

Mereka jadi bingung. Ingin mereka mendekati Asep, yang adalah suami mereka juga, tapi setiap saat setiap detik Asep selalu bersama Desi.

Mereka pun nyaris tak percaya, bagaimana mungkin seorang lelaki penghuni surga tidak tergiur dengan bidadari, yang penggambarannya dalam kitab suci, ketika di dunia, sanggup membuat orang rela meledakkan bom bunuh diri?

Berabad-abad kemudian, keadaan masih tetap seperti itu. Para bidadari semakin gelisah. Mereka hanya bisa saling mengunjungi satu sama lain dan berkeluh kesah tentang keadaan masing-masing.

Setelah ribuan tahun tak ada perubahan, akhirnya mereka sepakat untuk mengadu kepada Tuhan.

“Wahai Tuhan kami, yang maha pengasih lagi maha penyayang, bagaimana nasib kami ini, tak pernah dikunjungi satu kali pun oleh suami yang Engkau anugerahkan kepada kami. Bukankah Engkau menciptakan kami, para bidadari ini, dengan tujuan untuk menjadi pasangan bagi penghuni surga berjenis laki-laki? Kalau seperti ini terus, wahai Junjungan, lebih baik Engkau kembalikan saja kami kepada keadaan sebelumnya.”

Tuhan menjawab, “Kalian makhluk abadi. Sekali dicipta tak akan musnah selamanya.”

“Tolonglah, Tuhan, palingkan hatinya sedikit saja kepada kami.”

“Kalian sudah Kubekali kecantikan tak bertara. Manfaatkan itu untuk menarik perhatiannya.”

“Kami sudah berusaha, Tuhan. Sering kami keluar dari kamar dan berjalan-jalan di taman, memperlihatkan diri kepadanya, dengan pakaian seksi menerawang, dengan langkah megal-megol, berharap dia tertarik melihat kami. Tapi dia selalu saja berduaan dengan istrinya yang bawaan dari dunia itu, sedikit pun kami tak diliriknya.”

“Bersabarlah.”

“Sudah ribuan tahun, Tuhan. Kami jadi merasa tak berguna sama sekali. Kalau memang keberadaan kami tak dibutuhkan, ambil saja kami kembali ke sisi-Mu.”

“Hmmh, Aku tidak mungkin mengambil kembali apa yang sudah Kuberikan kepada hamba-Ku.”

“Kenapa tidak mungkin? Bukannya Engkau mahakuasa?”

“Tentu Aku bisa, tapi kalian sudah sepenuhnya menjadi milik si Asep. Gengsi dong kalau Kuambil lagi.”

“Lalu bagaimana, Tuhan? Apa yang harus kami lakukan?”

“O ya, ada satu cara. Kalian akan terlepas dari keadaan sekarang kalau si Asep sendiri yang membebaskan kalian.”

“Tapi bagaimana caranya supaya dia membebaskan kami?”

“Sekarang pulanglah. Akan ada solusinya.”

***

Ribuan tahun kemudian. Pada suatu hari, saat Asep dan Desi tengah bercengkrama di taman, beberapa sosok bidadari melintas di kejauhan, menghilang sejenak, lalu muncul lagi. Sebenarnya itu hal biasa, dan Asep menganggapnya hiasan taman belaka. Tapi kali itu Desi berkata, “Suamiku, lihat bidadari itu, kelihatannya dia sedang mencoba menarik perhatianmu.”

“Biarkan saja.”

“Kenapa sih kamu tak pernah acuhkan mereka? Mereka diciptakan Tuhan untukmu dan aku ikhlas.”

“Kenapa aku harus pedulikan burung-burung pipit padahal di depanku ada burung merak?”

“Setidaknya tengoklah mereka sesekali.”

“Kamu kenapa, Istriku? Apa kamu tak suka terus-menerus kutemani?”

“Bukan itu. Tentu aku bahagia sekali dapat selalu bersamamu. Tapi sebagai perempuan, aku dapat meraba-raba apa yang dirasakan para bidadari itu.”

“Baiklah. Daripada mengganggu, mungkin sebaiknya bidadari-bidadari itu kuberikan saja kepada temanku.”

“Siapa?”

“Sofyan. Dia mati waktu masih bujangan.”

***

Sofyan tengah bermain catur dikeroyok para bidadarinya ketika Asep dan Desi datang. Ia terkejut dan gembira melihat kedatangan kawan akrabnya sewaktu di dunia.

“Asep! Apa kabar, Sohib? Ayo main catur denganku.”

“Alhamdulillah, baik sekali, Sobatku Sofyan! Bagaimana kabarmu?”

“Alhamdulillah, mahabaik, Sohib. Lihat, sekarang istriku banyak sekali padahal waktu di dunia satu pun tak punya.”

“Selamat, selamat. Kalau nambah lagi mau enggak?”

“Nambah lagi? Boleh banget.”

“Kalau begitu, aku akan memberikan seluruh bidadariku padamu. Sepulang dari sini, segera kukirim mereka ke tempatmu.”

“Lho, kenapa? Bosan?”

“Tidak. Cuma tidak selera.”

“Aneh. Bukannya mereka bohai-bohai dan bahenol? Perawan terus lagi, hehehe….”

“Hahaha…, buat apa? Istriku 72 kali lebih bohai dan lebih bahenol ketimbang bidadari mana pun.”

Untuk beberapa jenak Sofyan memperhatikan Desi. Keningnya mengernyit. Tampaknya ia tak sepaham dengan ucapan sahabatnya.

Asep tertawa. “Ada baiknya kamu tak sependapat denganku. Berarti istriku aman dari gangguanmu, hehehe….”

“Enak saja! Ya sudah, tawaranmu kuterima. Sekarang ayo kita catur. Para bidadari itu payah semua. Sudah main keroyok pun tetap saja kalah.”

“Hehehe, otak mereka memang bukan di kepala….”

***

Begitulah. Para bidadari milik Asep terheran-heran ketika sore harinya mereka dijemput dengan kereta kencana lalu dibawa ke rumah Sofyan.

“Mulai sekarang kalian menjadi milik sahabatku ini,” kata Asep. “Bergembiralah, sebab dia tak akan menyia-nyiakan kalian.” []

 

Ciater, 2011

 

 

Advertisements

About Asep Sopyan

Senior Business Partner ASN | HP/WA 082-111-650-732 | Email myallisya@gmail.com | Blog: myallisya.com dan asepsopyan.com | Tinggal di Tangerang Selatan
This entry was posted in Cerpen and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s