Fiksimini: Kain Kafan yang Sudah Lapuk

Pemakaman, Batu Kubur, Kuburan

Pixabay

Seorang laki-laki yang sedang sakit keras berpesan kepada anaknya. “Anakku, nanti kalau ayah meninggal, kuburkan aku dengan kain kafan yang sudah lapuk.”

“Kenapa begitu, Ayah?”

“Ini pesan terakhirku. Laksanakan saja.”

“Tapi, Ayah, di mana bisa kuperoleh kain kafan yang lapuk itu? Bukankah tidak ada kain kafan yang bekas dipakai orang?”

Si Ayah terdiam. Lama. Dalam hati ia memaki dirinya, kenapa baru sekarang ide itu muncul. Selama ini tak pernah terpikir olehnya bahwa ia akan mati. Ia hanya mencari harta, harta, dan harta. Bahkan ia sempat mengira harta itu bisa mengekalkannya. Namun kini ia sakit keras, dan dokter mengatakan bahwa kemungkinan hidupnya tak akan lama lagi.

“Pokoknya cari sampai dapat,” ucapnya. “Ini pesan terakhirku.”

“Baik, Ayah. Tapi harta warisan Ayah untukku semua ya.”

“Sial kau. Ya sudah, ayo cari.”

 

Anaknya lalu mencari beberapa lembar selimut bekas dari rumah sakit. Tentunya yang berwarna putih. Umumnya kain itu sudah lusuh dan bau. Tapi karena belum lapuk benar, direndamnya kain itu dalam larutan detergen selama berhari-hari, kemudian dijemur berhari-hari, direndam lagi berhari-hari, lalu diangkat dan dibiarkan kering sendiri di tempat yang lembab.

Ketika laki-laki itu meninggal, dibungkuslah mayatnya dengan kain lapuk itu. Bukan itu saja. Ia pun dikuburkan di bekas kuburan orang entah siapa, dan batu nisannya dicomot dari kuburan orang entah siapa.

***

Di alam kubur, ketika para pengantar sudah pulang, datanglah malaikat Munkar dan Nakir membawa seutas cambuk api dan sebilah palu godam .

Man rabbuka?” tanya Munkar dan Nakir.

Laki-laki itu menampakkan wajah terkejut. “Hey, kenapa kalian menanyaiku lagi?”

“Menanyaimu lagi? Memang kamu baru tiba di sini,” jawab Munkar dan Nakir.

“Kalian salah. Aku penghuni lama. Lihat kain kafanku, sudah lusuh dan lapuk begini.”

Kedua malaikat tertawa. “Manusia bisa kamu tipu. Tapi kami kan bukan manusia, hahaha….”

“Sungguh, aku sudah pernah kalian tanyai. Tengok ke atas, batu nisanku pun sudah tua dan berlumut.”

“Jangan banyak omong! Jawab saja pertanyaan kami. Siapa tuhanmu?”

“Tu…tu…tuh…han…?”

Tiba-tiba sebuah lecutan mendarat di mukanya.

“Ampun, ampun…”

“Jawab, siapa nabimu?”

“Na…na…nab…?”

Lalu dammm…, dammm…, kepala mayat itu dihantam dengan palu godam hingga amblas ke dasar bumi.

“Ampuuun…!” []

 

Ciputat, 27 Oktober 2010

Advertisements

About Asep Sopyan

Senior Business Partner ASN | HP/WA 082-111-650-732 | Email myallisya@gmail.com | Blog: myallisya.com dan asepsopyan.com | Tinggal di Tangerang Selatan | Menjadi agen asuransi Allianz sejak November 2011.
This entry was posted in Fiksimini and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s