Membandingkan Kenaikan Harga BBM dari Era Soeharto sampai Jokowi, Era Siapa Paling Tinggi?

Hasil gambar untuk galang rambu anarki

Galang Rambu Anarki, vokalis band Bunga

Pada tahun 1982, Iwan Fals menulis lagu Galang Rambu Anarki untuk mengenang kelahiran anaknya yang sekaligus dijadikan judul lagu tersebut. Liriknya menyebutkan dua kali soal kenaikan harga BBM. “Tangisan pertamamu ditandai, BBM membumbung tinggi” dan “BBM naik tinggi, susu tak terbeli, orang pintar tarik subsidi, mungkin bayi kurang gizi”.

Saya membayangkan, jika seorang Iwan Fals sampai menulis lagu khusus dengan pesan utama tentang kenaikan BBM, berarti kenaikannya memang terasa sekali oleh rakyat pada waktu itu. Saya mencoba menelusuri di Google berapa kenaikan harga BBM di tahun tersebut, tapi tak menemukannya.

Di Wikipedia, saya menemukan data harga BBM dari tahun 1980 sampai sekarang, sayangnya tahun 1982 terlewat disebut. Mungkin yang disebut harga tahun 1980 sebetulnya adalah harga BBM saat ada kenaikan pada awal tahun 1982. Berapa harga sebelumnya? Tidak diketahui, dan mengingat monumen lagu Iwan Fals di atas, kemungkinan besar harga sebelumnya jauh lebih rendah.

Berikut adalah datanya. Saya tambahkan dengan persentase dan total kenaikan. Saya tandai merah kenaikan yang persentasenya di atas 50 %. Data yang saya masukkan hanya BBM jenis bensin premium dan solar, karena ini jenis BBM yang harganya ditetapkan pemerintah dan sepanjang sejarahnya paling banyak dipakai rakyat Indonesia.

Data Harga BBM Premium 1980-2018

Data Harga BBM Solar 1980-2018

Catatan:

  • Jika ada beberapa kali perubahan harga dalam satu tahun, dan perbedaannya tidak signifikan, saya cantumkan harga terakhir di tahun tersebut.

Dari data di atas, tampak bahwa kenaikan harga BBM premium maupun solar paling tinggi terjadi pada era Soeharto, yaitu total 567% (hampir 7 kali lipat untuk premium) dan 957% (10 kali lipat lebih untuk solar), itu pun dihitung dari harga tahun 1980, bukan sejak awal Soeharto menjabat. Tingginya kenaikan ini di antaranya karena ada perang teluk tahun 1990-1991, krisis moneter tahun 1998, dan juga karena lamanya rentang waktu Soeharto menjabat.

Kenaikan tertinggi kedua terjadi di era SBY, yaitu total 260% untuk premium dan 233% untuk solar (3 kali lipat lebih). Di era SBY, harga minyak dunia memang mencapai titik tertingginya hingga di atas 100 USD per barrel.

Bagaimana dengan era Jokowi? Di era Jokowi, sering dipersepsikan bahwa harga BBM naik terus. Bagaimana faktanya? Ternyata justru di era Jokowi, secara keseluruhan untuk premium hanya naik 50 rupiah alias kurang dari 1%, dan bahkan untuk solar mengalami penurunan 350 rupiah alias 6%.

Jadi secara umum, harga BBM di era Jokowi cukup stabil, salah satu faktornya karena kebetulan pada era ini harga minyak dunia relatif rendah dibanding era sebelumnya.

Demikian. []

Advertisements

About Asep Sopyan

Senior Business Partner ASN | HP/WA 082-111-650-732 | Email myallisya@gmail.com | Blog: myallisya.com dan asepsopyan.com | Tinggal di Tangerang Selatan | Menjadi agen asuransi Allianz sejak November 2011.
This entry was posted in Politik and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s