Pengalaman Setahun Tinggal di Perumahan Elite

NC 1Selama satu tahun, tepatnya mulai bulan Juli 2018 sd Juli 2019, saya dan keluarga merasakan tinggal di sebuah perumahan yang tergolong eksklusif di kawasan BSD. Tidak sangat elite, tapi menengahlah. Perumahan berbentuk cluster, pintu masuk satu gerbang, satpam konon ada 24 orang yang menjaga kurang-lebih 300 rumah, jalanannya lebar muat 3 mobil, parkiran luas, serta ada banyak pepohonan rindang dan taman yang luas.

Tinggal di tempat seperti ini memiliki banyak kelebihan. Pertama, dari segi keamanan relatif terjaga. Tak ada orang luar yang bisa bebas masuk keluar komplek tanpa melalui pos satpam sehingga di malam hari pun kita bisa naro motor dan sepeda di luar rumah tanpa khawatir ada yang ambil.

Lalu seperti umumnya cluster, tak ada pagar di depan rumah, sehingga kita bisa langsung memarkir mobil di carport tanpa harus turun terlebih dahulu atau berteriak menyuruh orang rumah untuk membuka pintu pagar. Keluar dari rumah pun bisa langsung jalan saja tanpa perlu turun untuk menutup pintu pagar.

Carportnya pun cukup luas, dengan lebar 3 meter dan panjang 5 meter, plus masih ada jarak sekitar 1 meter dengan badan jalan. Di belakang mobil masih bisa untuk motor atau jemuran.

Lalu jalanan yang lebar membuat kita bisa naro mobil di tepi jalan tanpa khawatir menghalangi para tetangga yang mau lewat atau mau parkir.

Ada dua taman bermain untuk anak, plus sebuah jongging track yang cukup luas dengan pepohonan besar di sekelilingnya.

Udara pun bersih. Kualitas jalan bagus, relatif bebas dari debu walaupun di musim kemarau.

Tak ada tiang listrik ataupun tiang telepon. Semua urusan perkabelan dan perpipaan dijalurkan di bawah tanah.

Tapi ada tapinya. Meskipun secara fisik sangat nyaman, sayangnya di sini jauh ke mana-mana. Jauh dalam arti: tidak bisa ditempuh dengan jalan kaki. Ke mana-mana harus pakai kendaraan bermotor.

Tak ada tukang jajanan yang diperbolehkan masuk ke dalam cluster. Kalau anak mau jajan, atau kita sendiri mau makan sesuatu, mau tak mau harus pergi ke luar perumahan. Itu artinya harus menyalakan kendaraan, minimal motor, karena jarak dari rumah ke luar sekitar 400 meter. Pilihan paling dekat Alfamart persis di depan komplek, dan bisa lebih jauh lagi tergantung tempat jajannya.

Tak ada tetangga yang buka warung untuk menyediakan kebutuhan sehari-hari. Kalau pasta gigi dan sabun habis, mau tak mau harus nyalain motor ke minimarket terdekat.

Tak ada tukang sayur yang lewat depan rumah atau mangkal di perempatan jalan perumahan. Mau belanja sayur dan lauk harus ngidupin mesin motor ke luar. Kadang saya belanja sehabis shalat subuh di masjid, kadang pagi harinya.

Konon orang-orang yang tinggal di perumahan seperti ini, mereka belanja sayuran dan lauk-pauk ke pasar dalam jumlah banyak untuk disimpan di kulkas sekira cukup untuk seminggu. Saya merasa tidak cocok dengan pola seperti itu. Kulkas saya kecil. Dan saya kira selengkap apa pun persediaan di kulkas, pasti ada saja yang kurang. Sebaliknya jika berlebihan, pasti ada saja yang tidak termanfaatkan.

Tak ada masjid di dalam perumahan, jadi harus keluar jika mau shalat berjamaah di masjid. Dan harus pakai motor atau mobil.

Dan kekurangan yang paling penting, kehidupan bertetangga kurang guyub. Tak ada bapak-bapak yang nongkrong malam-malam sambil ngopi dan main gaple. Tak ada pertemuan RT yang dihadiri para warga, dan pertemuan tingkat RW pun yang hadir para pejabat RT saja. Tak ada acara hajatan atau kendurian dan semacamnya yang mengundang para tetangga.

Pernah suatu malam saya jalan keliling perumahan, tak saya temukan satu pun bapak-bapak yang duduk di teras rumah atau apalagi bergerombol di tempat semacam pos ronda. Semua orang sibuk dengan urusannya. Pergi kerja pagi dan pulangnya rata-rata malam hari, dan setelah itu langsung ngendon di dalam rumah.

Saya bukan orang yang gemar nongkrong dan ngobrol ngalor-ngidul, tapi sesekali ya butuh juga.

Terkadang memang terlihat ada acara di sebuah rumah, tapi yang hadir di sana hanyalah keluarga besar atau teman kantor mereka.

Di antara ibu-ibu pun demikian. Istri saya nyaris tak punya teman selama di sana. Dengan tetangga kiri kanan depan memang biasa saling sapa, tapi tak lebih dari itu. Kami tak pernah masuk ke rumah tetangga, dan tetangga pun tak ada yang pernah masuk ke rumah kami.

Di cluster ini tak ada rumah yang berpagar, tapi hubungan antartetangga seakan disekat oleh pagar yang tak kelihatan. Mungkin itu kesibukan pekerjaan masing-masing, mungkin juga etnis, agama, dan asal-usul budaya yang beraneka ragam.

Yang tak terpengaruh kondisi ini hanya anak-anak. Mereka tetap saling berteman, bermain bersama-sama di luar ataupun di dalam rumah salah seorang, dan rumah yang saya tempati pun sering dikunjungi teman-teman anak saya secara bergerombol.

Apa pun itu, saya bersyukur bisa merasakan tinggal di perumahan yang tergolong elite. Saya memang pernah memimpikan bisa tinggal di perumahan seperti ini, dan sempat mencicil DP-nya walau hanya beberapa bulan. Tapi saya juga bersyukur tidak jadi, karena rasanya perumahan seperti ini memang tidak cocok dengan saya.

Sekarang, mulai Juli 2019, saya pindah ke perumahan yang karakternya jauh berbeda. Ciater Permai, kelurahan Ciater kecamatan Serpong, tak jauh dari BSD. Ini perumahan lama, generasi orangtua saya. Rumah-rumahnya pun banyak yang tampak tua. Di sini jalan masuknya banyak. Tak terlihat ada satpam yang berjaga. Siapa pun bebas masuk dan lewat.

Jalanan perumahannya tidak selebar perumahan sebelumnya, sekadar cukup untuk dua mobil berpapasan. Rumah-rumahnya berpagar semuanya, tidak praktis kalau keluar masuk. Di depan sejumlah rumah ada tiang listrik yang memakan tepian jalan. Baiknya masih ada lapangan luas untuk warga berolahraga atau kegiatan lainnya.

Ciater Permai 1

Lapangan Ciater Permai

Tapi di antara semua keterbatasan itu, tempat ini dekat ke mana-mana. Ada tukang sayur yang mangkal dan ada pula yang keliling, jadi istri saya bisa belanja sendiri. Warung tetangga ada di beberapa tempat dan tak jauh dari rumah. Tukang jajanan aneka macam lewat depan rumah, ada roti, bubur ayam, somay, es doger, dan banyak lagi. Masjid hanya terhalang 6 rumah, walau saya baru berangkat saat iqamat pun tak akan ketinggalan rakaat. Lalu ada TPA di masjid itu, bisa untuk anak-anak saya belajar alif ba ta.

Dan yang paling penting, kehidupan bertetangga kelihatannya cukup guyub. Baru beberapa hari di sini, saya sudah kenal beberapa tetangga dan sudah ngobrol dengan mereka. Lalu ada warung makan di ujung gang yang jadi tempat siapa saja duduk nongkrong sambil ngopi dan ngobrol. Ketika ibu saya datang berkunjung pada hari ketiga kami pindah, komentar pertamanya adalah: ini seperti di kampung.

Alhamdulillah, semoga betah di sini. Amin []

About Asep Sopyan

Senior Business Partner ASN | HP/WA 082-111-650-732 | Email myallisya@gmail.com | Blog: myallisya.com dan asepsopyan.com | Tinggal di Tangerang Selatan | Menjadi agen asuransi Allianz sejak November 2011.
This entry was posted in Catatan Harian, Keluarga and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s