Cerpen: Doa yang Kesasar

Pantai, Hari Libur, Laut, Musim Panas

Pixabay

Ada satu kejadian lucu saat kami menghadiri tahlilan di rumah almarhum kawan kami di kawasan Pamulang. Meski kami sudah janjian berangkat bareng habis magrib, ada juga beberapa teman yang ketinggalan.

Salah satunya Kusmana. Dia menyusul dari Ciputat dengan bekal keterangan seadanya tentang alamat rumah almarhum. Ternyata dia kesasar. Dari jalan raya, dia masuk ke gang berikutnya dari gang yang seharusnya dituju. Kebetulan di salah satu rumah di gang itu juga ada acara tahlilan. Karena tempat duduk sudah penuh, dia duduk di teras depan. Dia tidak melihat satu pun teman-temannya di antara jemaah tahlil. Pikirnya, mungkin kami ada di ruang dalam. Dan karena acara tahlilan sudah memasuki sesi pembacaan Yasin, dia pun ikut membaca Yasin, selanjutnya mengaminkan doa yang dipimpin ustaz.

Setelah doa selesai, saat makanan diedarkan, Kusmana mendengar orang-orang bercakap-cakap tentang almarhum. Tapi nama yang mereka sebut berbeda dengan nama teman kami.

“Memang siapa yang meninggal, Pak?” tanya Kusmana kepada orang di sebelahnya. Continue reading

Advertisements
Posted in Cerpen | Tagged , , | Leave a comment

Cerpen: Mereka Tak Ada di Surga

Hasil gambar untuk cerita silatSyahdan, kelak di hari kemudian, seorang penggemar fanatik cerita silat mendapat anugerah mahabesar dari Tuhan, yakni dimasukkan ke dalam surga. Tatkala ia telah ditempatkan di kamarnya yang supermewah, hal pertama yang dimintanya kepada pelayan surga ialah buku-buku cerita silat karya para pengarang favoritnya dulu waktu di dunia.

”Cerita silat?” Ridwan, malaikat yang ditugaskan sebagai penjaga dan pelayan surga, terheran-heran. “Maaf, Tuan, kenapa anda tidak minta bidadari berbodi montok, arak paling sedap, atau aneka hidangan yang top markotop?”

“Yang lain-lain itu nanti saja. Ini nazarku waktu di dunia. Aku tak akan menyentuh apa pun kenikmatan surga sebelum membaca habis seluruh cersil dari pengarang-pengarang yang kukagumi.”

“Baiklah, Tuan. Cersil apa yang anda minta?”

Penggemar cersil berpikir sejenak. “Aku akan mulai dari yang pertama kubaca waktu masih SD dan SMP. Serial Wiro Sableng karya Bastian Tito.” Continue reading

Posted in Cerpen | Tagged , , , , , , | Leave a comment

Asuransi Itu Proteksi, Bukan Investasi

Irama jantungSesuai dengan arti harfiahnya, asuransi itu proteksi, bukan investasi. Membeli produk asuransi mestinya diniatkan untuk tujuan memperoleh proteksi dari kejadian-kejadian yang tidak diinginkan, yang tidak dapat diduga datangnya.

Bahkan walaupun produk asuransi yang diambil itu jenisnya unit-link (asuransi jiwa yang dikaitkan dengan investasi), niat utamanya tetap proteksi, bukan investasi.

Salahkah jika unit-link diniatkan untuk investasi? Ini bukan soal benar-salah. Tapi jika tujuannya untuk investasi, ada banyak instrumen lain yang bisa memberikan keuntungan lebih besar dengan biaya yang lebih murah. Misalnya obligasi, reksadana, dan saham. Jika tidak mengerti tentang obligasi, reksadana, dan saham, atau tidak punya waktu untuk mempelajarinya, anda bisa berinvestasi di instrumen tradisional yang lebih sederhana dan mudah dipahami, seperti deposito, emas, dan properti. Continue reading

Posted in Asuransi | Tagged , , , , , , | Leave a comment

Fiksimini: Kain Kafan yang Sudah Lapuk

Pemakaman, Batu Kubur, Kuburan

Pixabay

Seorang laki-laki yang sedang sakit keras berpesan kepada anaknya. “Anakku, nanti kalau ayah meninggal, kuburkan aku dengan kain kafan yang sudah lapuk.”

“Kenapa begitu, Ayah?”

“Ini pesan terakhirku. Laksanakan saja.”

“Tapi, Ayah, di mana bisa kuperoleh kain kafan yang lapuk itu? Bukankah tidak ada kain kafan yang bekas dipakai orang?”

Si Ayah terdiam. Lama. Dalam hati ia memaki dirinya, kenapa baru sekarang ide itu muncul. Selama ini tak pernah terpikir olehnya bahwa ia akan mati. Ia hanya mencari harta, harta, dan harta. Bahkan ia sempat mengira harta itu bisa mengekalkannya. Namun kini ia sakit keras, dan dokter mengatakan bahwa kemungkinan hidupnya tak akan lama lagi.

“Pokoknya cari sampai dapat,” ucapnya. “Ini pesan terakhirku.”

“Baik, Ayah. Tapi harta warisan Ayah untukku semua ya.”

“Sial kau. Ya sudah, ayo cari.”

 

Anaknya lalu mencari beberapa lembar selimut bekas dari rumah sakit. Tentunya yang berwarna putih. Umumnya kain itu sudah lusuh dan bau. Tapi karena belum lapuk benar, direndamnya kain itu dalam larutan detergen selama berhari-hari, kemudian dijemur berhari-hari, direndam lagi berhari-hari, lalu diangkat dan dibiarkan kering sendiri di tempat yang lembab.

Ketika laki-laki itu meninggal, dibungkuslah mayatnya dengan kain lapuk itu. Bukan itu saja. Ia pun dikuburkan di bekas kuburan orang entah siapa, dan batu nisannya dicomot dari kuburan orang entah siapa.

***

Di alam kubur, ketika para pengantar sudah pulang, datanglah malaikat Munkar dan Nakir membawa seutas cambuk api dan sebilah palu godam .

Man rabbuka?” tanya Munkar dan Nakir.

Laki-laki itu menampakkan wajah terkejut. “Hey, kenapa kalian menanyaiku lagi?”

“Menanyaimu lagi? Memang kamu baru tiba di sini,” jawab Munkar dan Nakir.

“Kalian salah. Aku penghuni lama. Lihat kain kafanku, sudah lusuh dan lapuk begini.”

Kedua malaikat tertawa. “Manusia bisa kamu tipu. Tapi kami kan bukan manusia, hahaha….”

“Sungguh, aku sudah pernah kalian tanyai. Tengok ke atas, batu nisanku pun sudah tua dan berlumut.”

“Jangan banyak omong! Jawab saja pertanyaan kami. Siapa tuhanmu?”

“Tu…tu…tuh…han…?”

Tiba-tiba sebuah lecutan mendarat di mukanya.

“Ampun, ampun…”

“Jawab, siapa nabimu?”

“Na…na…nab…?”

Lalu dammm…, dammm…, kepala mayat itu dihantam dengan palu godam hingga amblas ke dasar bumi.

“Ampuuun…!” []

 

Ciputat, 27 Oktober 2010

Posted in Fiksimini | Tagged , , | Leave a comment

Asuransi Bukan Tabungan, Tapi Kumpulan Sumbangan

Banyak orang terheran-heran, mengapa asuransi bisa memberikan manfaat proteksi yang begitu besar dibandingkan premi yang dibayarkan. Misalnya premi 1 juta per bulan, baru bayar 1 kali lalu kena musibah bisa dapat  uang 1 miliar.

Kedengarannya asuransi itu too good to be true. Terlalu bagus untuk bisa dipercaya. Kok bisa?

Jawabnya: karena asuransi bukan tabungan.

Kalau tabungan,  sampai mati pun sangat kecil kemungkinannya uang 1 juta tiap bulan bisa menjadi 1 miliar, karena untuk itu butuh waktu 1000 bulan alias 83 tahun.

Kalau bukan tabungan, lalu apa?

Asuransi adalah kumpulan sumbangan. Anda menyumbang dan ribuan orang lainnya menyumbang. Maka dalam sekejap terkumpul uang dalam jumlah yang banyak, yang siap-siaga untuk dikeluarkan jika sewaktu-waktu ada penyumbang yang butuh bantuan.

Mungkin saja di antara yang butuh bantuan itu anda. Maka jika anda ingin dibantu, membantulah lebih dahulu. Inilah baru fair namanya.

Orang yang di saat masih sehat tidak mau ikut asuransi, tapi setelah terasa sakit baru tergerak ikut asuransi, hakikatnya adalah orang yang hanya mementingkan diri sendiri. Ingin dibantu ketika sakit, tapi tidak mau membantu ketika sehat. Di asuransi pemerintah (BPJS), hal seperti ini dimungkinkan. Banyak orang yang ketika sehat tidak mau ikut program JKN dari BPJS, tapi ketika sudah sakit barulah daftar BPJS. Hal semacam ini tidak dimungkinkan di asuransi swasta.

Asuransi Syariah dan Asuransi Konvensional

Konsep asuransi sebagai kumpulan sumbangan disebutkan secara eksplisit dalam asuransi syariah, dan implisit dalam asuransi konvensional. Dalam asuransi syariah, peserta asuransi mengadakan perjanjian dengan para peserta lainnya untuk saling tolong-menolong (ta’awun) dengan bersama-sama mengumpulkan dana hibah yang disebut tabarru. Dana tabarru merupakan milik para peserta, digunakan hanya untuk membantu para peserta yang mengalami musibah yang dipertanggungkan, dan tidak bisa digunakan untuk keperluan lain. Sedangkan pihak perusahaan asuransi hanyalah sebagai pengelola yang mendapat imbalan atas dasar akad wakalah bil ujrah.

Dalam asuransi konvensional, kata-kata semacam tolong-menolong tidak disebutkan secara eksplisit, tapi sebetulnya semua orang sama-sama tahu bahwa uang yang dipakai perusahaan asuransi untuk membayar klaim sebetulnya berasal dari kumpulan premi para nasabah. Bedanya dengan asuransi syariah, status uang tersebut telah menjadi milik perusahaan, sehingga secara prinsip perusahan berhak menggunakannya untuk apa saja atau mau diinvestasikan ke mana, yang penting ketika nasabah hendak klaim uangnya ada.

Demikian. [Artikel ini pernah dimuat di myallisya.com]

Posted in Asuransi | Tagged , , , , | Leave a comment